Keistimewaan songket terlihat dari tingkat kerumitan pengerjaannya, penggunaan bahan, serta motif yang menghiasi kain. Dalam tradisi Minangkabau, kain songket menjadi bagian dari perlengkapan busana adat dan memiliki fungsi simbolis bagi pemakainya.
Karena nilai tersebut, songket tidak sekadar dipandang sebagai hasil kerajinan tangan. Proses pembuatannya sekaligus menjadi bagian dari pewarisan pengetahuan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari kain adat ke inspirasi perlengkapan ibadah
Jejak budaya tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi SASKARA dalam mengembangkan koleksi Bungo Ameh yang diperkenalkan bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Konseptor sekaligus desainer SASKARA, Andya Kartika, mengatakan nama Bungo Ameh berasal dari bahasa Minang yang berarti “Bunga Emas”. Koleksi tersebut terinspirasi dari kemegahan mahkota suntiang serta motif songket khas Sumatera Barat.
“Bungo Ameh terinspirasi dari kemegahan Mahkota Suntiang dan keindahan motif kain Songket khas Sumatera Barat. Susunan ornamen bunga yang berkilau pada mahkota suntiang serta motif songket yang sarat makna kami padukan untuk menghadirkan koleksi yang tidak hanya indah, tetapi juga kaya nilai budaya,” ujar Andya.