Advertisement
Advertisement

Kenali Beragam Respons Tubuh terhadap Kekerasan Seksual, Tak Semua Bisa Langsung Melawan

Nurrizka Nasywa Tsabitah , Jurnalis-Minggu, 08 November 2026 |08:05 WIB
Kenali Beragam Respons Tubuh terhadap Kekerasan Seksual, Tak Semua Bisa Langsung Melawan
Kekerasan pada perempuan. (Foto: Freepik)
A
A
A

REAKSI seseorang setelah mengalami kekerasan seksual bisa berbeda-beda. Ada yang langsung menangis atau melaporkan kejadian tersebut, tetapi ada pula yang memilih diam, tetap berhubungan dengan pelaku, bahkan baru menyadari bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual setelah beberapa waktu.

Perbedaan respons tersebut kerap membuat penyintas mendapat pertanyaan atau penilaian dari orang lain. Padahal, tidak ada satu cara yang dianggap paling benar atau normal dalam merespons pengalaman traumatis.

Dilansir dari Women's Health, respons penyintas dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari kondisi psikologis, pengalaman pribadi, hingga situasi ketika kekerasan terjadi. Berikut penjelasannya.

kekerasan seksual

1. Mengalami Respons Freeze atau Membeku

Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul adalah anggapan bahwa korban kekerasan seksual pasti akan melawan, berteriak, atau berusaha melarikan diri. Kenyataannya, sebagian orang justru mengalami respons freeze atau membeku.

Respons ini merupakan salah satu mekanisme bertahan tubuh ketika menghadapi ancaman. Seseorang bisa merasa tidak mampu bergerak, berbicara, atau menentukan tindakan meskipun sebenarnya ingin melarikan diri.

Dalam sejumlah kasus, penyintas juga dapat mengalami disosiasi, yaitu kondisi ketika mereka merasa seperti tidak sepenuhnya hadir dalam situasi yang sedang dialami. Respons tersebut bukan berarti menyetujui tindakan pelaku, melainkan reaksi otomatis ketika menghadapi situasi mengancam.

2. Terlihat Seolah Tidak Terpengaruh

Tidak semua penyintas langsung menyadari bahwa dirinya mengalami kekerasan seksual. Sebagian orang mungkin menganggap kejadian tersebut sebagai pengalaman seksual yang buruk atau sekadar kesalahpahaman. Ada pula penyintas yang berusaha bersikap seolah semuanya baik-baik saja sebagai cara untuk menghadapi emosi yang sulit.

Hal ini juga bisa terjadi karena mereka belum memahami konsep persetujuan atau consent sepenuhnya. Misalnya, seseorang awalnya menyetujui aktivitas seksual, tetapi kemudian berubah pikiran. Mereka tidak tahu persetujuan dapat ditarik kapan saja, sehingga aktivitas yang berlanjut setelahnya bukan lagi tindakan konsensual.

3. Menyalahkan Diri Sendiri

Perasaan bersalah dan malu juga dapat muncul setelah seseorang mengalami kekerasan seksual. Mereka mungkin mempertanyakan tindakan sendiri, seperti merasa seharusnya melawan, pergi lebih cepat, atau mengambil keputusan berbeda.

Penyintas juga bisa berpikir kalau ini adalah salahnya sebagai respons terhadap trauma. Padahal, kekerasan seksual bukanlah kesalahan penyintas. Tanggung jawab sepenuhnya berada pada pelaku, bukan pada bagaimana seseorang bereaksi ketika kejadian berlangsung.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement