KASUS kekerasan yang melibatkan pelaku bernama Taufik Hidayat kepada kekasihnya berinisial YTR, di Bandung selama 3 tahun memunculkan perdebatan mengenai peran alkohol dalam memicu tindakan brutal. Pelaku berinisial TH itu sendiri mengaku perilaku kejinya terjadi akibat pengaruh alkohol.
Pandangan soal alkohol dapat mengubah kepribadian seseorang hingga melakukan kekerasan pun ramai diperbincangkan. Namun ternyata, tak hanya alkohol yang bisa jadi faktor penyabab. Bisa jadi, hal itu diungkap Taufik demi menutup aksi kekerasannya.

Menanggapi hal tersebut, psikolog forensic, Reza Indragiri, dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone, menjelaskan hubungan antara konsumsi alkohol dan perilaku kekerasan. Menurutnya, alkohol bukanlah satu-satunya faktor yang menyebabkan seseorang melakukan tindakan kejam.
Reza Indragiri mengatakan berbagai riset menunjukkan adanya hubungan yang kuat antara konsumsi minuman beralkohol dan meningkatnya risiko perilaku agresif atau kekerasan. Meski demikian, temuan tersebut tidak dapat langsung dijadikan dasar bahwa setiap pelaku kekerasan pasti dipengaruhi oleh alkohol.
Hubungan itu tetap harus dibuktikan pada masing-masing kasus melalui pemeriksaan yang menyeluruh. Menurut Reza, perilaku manusia, termasuk tindakan kriminal, umumnya dipengaruhi oleh banyak faktor yang saling berkaitan.
Alkohol mungkin menjadi salah satunya. Tetapi, tindakan itu bisa saja terjadi karena faktor lain yang berkontribusi hingga seseorang melakukan kekerasan ekstrem.
“Pertama, sekian banyak riset memang menemukan tadi hubungan yang sangat erat antara konsumsi alkohol dalam kurung miras dengan berlaku kekerasan. Jadi tidak serta-merta saya anggap itu sebagai sebuah klaim yang mengada-ngada,” ujar Reza.
“Tapi, klaim yang boleh jadi terbenarkan oleh riset tinggal lagi dibuktikan seberapa jauh kebenaran teori itu berlaku pada diri si pelaku. Jadi lagi, tali-temali yang sangat kuat antara konsumsi alkohol dengan berlaku kekerasan. Itu poin pertama,” lanjutnya.
Untuk memahami profil pelaku secara menyeluruh, Reza menjelaskan perlunya dilakukan risk assessment atau penilaian risiko. Metode ini digunakan untuk mengidentifikasi berbagai faktor yang dapat meningkatkan risiko seseorang melakukan tindak kekerasan. Apa saja faktor tersebut?
Berikut 5 Faktor Lain yang Bisa Jadi Penyebab Kekerasan:
Dimensi pertama mencakup riwayat penyalahgunaan alkohol atau narkoba, serta kemungkinan adanya gangguan mental tertentu. Dalam konteks kasus ini, konsumsi alkohol masuk dalam aspek yang perlu dievaluasi.
“Apakah alkohol merupakan faktor tunggal yang menyebabkan kenapa pelaku sampai berbuat sedemikian kejam? Saya orang yang membayangkan bahwa perilaku manusia termasuk perilaku jahat manusia itu disebabkan oleh faktor yang majemuk, yang lebih dari satu. Jadi anggaplah ada faktor alkohol di situ,” jelas Reza.
“Tapi, boleh jadi ada faktor-faktor lain yang berkelindang yang turut pada akhirnya membentuk pelaku kekerasan. Nah untuk memastikannya, mengingat si TH ya, kalau tidak salah ini adalah pelaku kekerasan, maka saya akan melakukan risk assessment atau penakaran risiko terhadap orang semacam ini,” lanjutnya.
“Risk assessment atau penakaran risiko itu dilakukan untuk menelaah lima dimensi. Pertama, riwayat ada tidaknya penyalahgunaan narkoba dan gangguan mental. Nah, kalau kita bicara miras ternyata ini berada pada dimensi pertama, yaitu penyalahgunaan narkoba dan kemungkinan ada tidaknya gangguan mental tertentu. Tapi tidak hanya itu kan, ternyata ada empat dimensi lain,” sambungnya.
Penilaian juga mencakup kebiasaan pelaku, seperti jenis bacaan, tontonan, topik pembicaraan, hingga imajinasi yang sering muncul. Jika seseorang terus-menerus terpapar atau memiliki fantasi mengenai kekerasan, hal tersebut dapat menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan.
“Dimensi yang kedua, fantasi-fantasi kekerasan. Si pelaku ini suka baca buku seperti apa? Tayangan-tayangan di Youtube seperti apa yang dia tonton? Kalau dia berbincang, konsep katanya seperti apa? Ketika dia berimajinasi, bahkan ketika bermimpi, temanya pun tentang apa? Jangan-jangan kita akan menemukan adanya fantasi-fantasi kekerasan yang ada pada diri TH kalau kita analisis objek-objek tadi itu,” ucap Reza.