KASUS penganiayaan yang dilakukan TH terhadap YTR selama 3 tahun di Bandung menyita perhatian publik. Peristiwa tersebut tidak hanya menimbulkan luka fisik, tetapi juga berpotensi meninggalkan trauma psikologis yang membutuhkan waktu panjang untuk dipulihkan.
Banyak orang mengira bahwa proses penyembuhan selesai ketika korban keluar dari rumah sakit. Padahal, bagi penyintas kekerasan, pemulihan mental sering kali menjadi tantangan yang jauh lebih berat dibandingkan penyembuhan luka fisik.
Trauma akibat kekerasan dapat muncul dalam berbagai bentuk. Korban bisa mengalami kecemasan berlebihan, sulit tidur, sering mengingat kembali kejadian yang dialami (flashback), kehilangan rasa percaya terhadap orang lain, hingga depresi atau gangguan stres pascatrauma (PTSD). Tidak semua korban mengalami gejala yang sama, tetapi semuanya membutuhkan perhatian dan dukungan.
Lalu, bagaimana proses penyembuhan mental setelah menjadi korban kekerasan? Okezone akan mengulasnya dalam artikel ini.
Dilansir dari Connection for Abused Women and Their Children, berikut 6 cara sembuh secara mental usai jadi korban kekerasan:
Perasaan takut, cemas, sedih, atau marah setelah mengalami kekerasan merupakan respons yang umum terjadi. Korban tidak perlu memaksakan diri untuk segera merasa baik-baik saja. Setiap orang memiliki waktu pemulihan yang berbeda.
Pendampingan dari psikolog atau psikiater sangat dianjurkan, terutama jika trauma mulai mengganggu aktivitas sehari-hari. Terapi dapat membantu korban memahami emosinya, mengurangi kecemasan, serta membangun kembali rasa aman.
Dukungan dari keluarga, sahabat, atau komunitas memiliki peran besar dalam proses pemulihan. Kehadiran orang-orang yang mau mendengar tanpa menghakimi dapat membantu korban merasa lebih aman dan tidak sendirian.