Advertisement
Advertisement

Kenali Beragam Respons Tubuh terhadap Kekerasan Seksual, Tak Semua Bisa Langsung Melawan

Nurrizka Nasywa Tsabitah , Jurnalis-Minggu, 08 November 2026 |08:05 WIB
Kenali Beragam Respons Tubuh terhadap Kekerasan Seksual, Tak Semua Bisa Langsung Melawan
Kekerasan pada perempuan. (Foto: Freepik)
A
A
A

4. Tetap Berhubungan dengan Pelaku

Kasus Dugaan Kekerasan Seksual 10 Santriwati, Polisi Periksa Peran 3 Orang Lain

Ini mungkin terasa membingungkan bagi orang lain, tetapi sebagian penyintas bisa saja masih menjalin hubungan dengan pelaku kekerasan. Tetapi, sebenarnya ada sejumlah faktor psikologis yang menjelaskan alasannya.

Peneliti psikologi, Jennifer Freyd, menggunakan istilah betrayal blindness untuk menggambarkan kondisi ketika seseorang cenderung mengabaikan atau tidak sepenuhnya menyadari pengkhianatan yang dilakukan orang terdekat demi mempertahankan hubungan.

Terlebih jika pelaku merupakan teman, pasangan, atau anggota keluarga. Penyintas mungkin berusaha mempertahankan hubungan, lingkungan pertemanan, atau rasa normal dalam kehidupannya. Ada pula yang belum sepenuhnya memahami bahwa tindakan tersebut merupakan kekerasan seksual.

5. Mengalami Respons Fisik yang Tidak Disengaja

Sebagian penyintas mungkin mengingat bahwa tubuh mereka menunjukkan respons fisik, seperti mengalami gairah seksual atau orgasme ketika kekerasan terjadi. Hal ini dapat memunculkan kebingungan dan membuat mereka mempertanyakan apakah dirinya sebenarnya memberikan persetujuan.

Namun, respons fisik tersebut dapat terjadi secara otomatis dan tidak mencerminkan keinginan seseorang. Karena itu, respons fisik tidak dapat dijadikan bukti bahwa seseorang menginginkan atau menyetujui tindakan yang dialaminya.

6. Memiliki Perubahan dalam Kehidupan Seksual

Pengalaman kekerasan seksual juga dapat memengaruhi kehidupan seksual penyintas dengan cara yang berbeda. Ada yang memilih menghindari aktivitas seksual karena pengalaman traumatis, sementara sebagian lainnya justru lebih aktif secara seksual.

Menurut peneliti yang mempelajari kekerasan seksual, Erin O'Callaghan, tidak ada satu pola perilaku seksual yang berlaku bagi semua penyintas. Sebagian orang mungkin berusaha mendapatkan pengalaman seksual yang positif untuk membangun kembali rasa percaya diri dan kendali atas tubuhnya. Di sisi lain, ada pula yang mengalami rasa sakit ketika berhubungan seksual atau kesulitan merasakan gairah dan mencapai orgasme.

7. Mengubah Ceritanya Seiring Waktu

Penyintas juga mungkin menceritakan pengalaman dengan detail yang berbeda pada kesempatan lain. Hal ini tidak serta-merta berarti mereka berbohong.

Memahami dan memproses pengalaman traumatis bisa membutuhkan waktu. Seseorang mungkin baru menyadari bahwa kejadian yang dialaminya termasuk kekerasan seksual setelah mendapatkan informasi atau melihat situasinya dari sudut pandang berbeda.

Ingatan traumatis juga dapat tersimpan secara terfragmentasi atau tidak utuh. Karena itu, seseorang mungkin kesulitan mengingat urutan kejadian secara detail. Setiap penyintas memiliki pengalaman dan respons ingatan yang berbeda.

Jadi, perlu diingat kalau penyintas tidak harus melawan, langsung melapor, atau menceritakan kejadian dengan urutan yang selalu sama agar pengalaman mereka dipercaya. Berikan dukungan tanpa menghakimi dan tidak menyalahkan penyintas atas tindakan pelaku.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement