TRAGEDI memilukan menimpa Dini Hardiyanti (30) dan anak laki-lakinya, AGF (4), asal Kabupaten Bogor. Keduanya tewas dalam kasus pembunuhan yang diduga dilakukan Dwi Bagus Martono (40), suami siri Dini, setelah dilaporkan hilang sejak 20 September 2026.
Kronolog peristiwa tersebut diduga dipicu persoalan kecemburuan. Kasus ini kembali menyoroti dampak konflik dan kekerasan dalam hubungan terhadap anak, baik yang menjadi korban langsung maupun yang harus menyaksikan kekerasan terhadap orangtuanya.
Bagi anak, menyaksikan orangtua mengalami kekerasan dapat menjadi pengalaman traumatis yang memengaruhi rasa aman, kondisi emosional, hingga perkembangan psikologisnya. Sani Budiantini, psikolog anak, remaja, dan keluarga, menyoroti sejumlah dampak yang dapat dialami anak ketika menjadi saksi kekerasan, terlebih jika kekerasan tersebut berujung pada kematian.
Sani menjelaskan bahwa anak yang menyaksikan kekerasan terhadap orangtua dapat mengalami trauma mendalam. Apalagi jika kekerasan tersebut sangat parah atau menyebabkan kematian orang yang mereka cintai.
Pengalaman ini dapat membuat anak merasa dunia di sekitarnya tidak lagi aman. Mereka mungkin mengalami mimpi buruk, sulit tidur, ketakutan berlebihan, atau terus teringat pada kejadian yang disaksikan.
Sani menuturkan bahwa menyaksikan kekerasan dapat memicu anak mengalami berbagai respons emosional, mulai dari kesedihan, kecemasan, dan kemarahan hingga rasa bersalah. Sebagian anak mungkin menjadi lebih pendiam, mudah marah, menarik diri dari lingkungan sosial, atau menunjukkan perubahan perilaku.
Pada beberapa kasus, pengalaman traumatis juga dapat meningkatkan risiko gangguan kecemasan, depresi, dan gangguan stres pascatrauma (PTSD). Hal ini yang perlu jadi perhatian bagi orangtua karena dampaknya bisa berlaku jangka panjang.