JAKARTA — Kain songket menjadi salah satu warisan tekstil yang lekat dengan kebudayaan Minangkabau di Sumatera Barat. Di balik kemilau benang emas dan perak yang menjadi cirinya, songket tidak hanya berfungsi sebagai kain pelengkap busana, tetapi juga berkaitan dengan adat, simbol sosial, serta nilai-nilai kehidupan masyarakat Minangkabau.
Salah satu sentra yang dikenal dalam tradisi songket Minangkabau adalah Pandai Sikek. Pemerintah menetapkan Songket Pandai Sikek sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 270/P/2014 dalam domain Kemahiran dan Kerajinan Tradisional.
Menurut data Direktorat Warisan dan Diplomasi Budaya Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, ciri khas Songket Pandai Sikek terlihat dari penggunaan benang emas dan perak yang ditenun bersama kain sutera sehingga menghasilkan kain dengan tampilan yang khas. Ragam hias yang dikenal antara lain motif cukie dan sungayang.
Tradisi songket di Sumatera Barat tidak hanya berkembang di Pandai Sikek. Silungkang di Kota Sawahlunto juga menjadi salah satu pusat penting tenun songket. Songket Silungkang ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia melalui SK Nomor 362/M/2019.
Penelitian mengenai songket tradisional Silungkang menunjukkan bahwa kerajinan tersebut merupakan bagian dari warisan budaya Minangkabau. Teknik pembuatannya mengalami perkembangan, termasuk penggunaan Alat Tenun Bukan Mesin (ATBM), sementara motif-motif yang digunakan memiliki keterkaitan dengan filosofi masyarakat Minangkabau.
Motif songket tidak sekadar hiasan
Salah satu karakter penting songket Minangkabau terletak pada motifnya. Sejumlah penelitian menemukan adanya hubungan antara ragam hias songket dengan ornamen yang terdapat pada ukiran kayu Rumah Gadang.
Penelitian mengenai korelasi motif songket dan ukiran kayu di Sumatera Barat mencatat bahwa sejumlah motif pada songket memiliki kemiripan dengan motif ukiran rumah tradisional Minangkabau. Pandai Sikek, Kubang, dan Silungkang disebut sebagai beberapa daerah yang menjadi pusat kegiatan menenun songket.
Keterkaitan tersebut menunjukkan bahwa motif pada kain dan ukiran tidak berdiri sendiri, melainkan berada dalam lingkungan simbolik kebudayaan Minangkabau. Kajian lain bahkan mencatat bahwa motif-motif pada songket Minangkabau berkaitan dengan motif ukiran kayu yang terdapat pada Rumah Gadang.
Salah satu motif yang dikenal dalam tradisi songket Minangkabau adalah pucuak rabuang atau pucuk rebung. Dalam kajian etnomatematika terhadap kain songket Minangkabau, motif tersebut dimaknai melalui karakter rebung yang kelak tumbuh menjadi bambu. Motif ini kemudian dikaitkan dengan nilai kegunaan dan menjadi salah satu bentuk simbolik yang hadir dalam kebudayaan Minangkabau.
Selain motif tumbuhan, songket Minangkabau juga mengenal berbagai bentuk geometris dan ornamen yang mengambil inspirasi dari alam. Karena itu, kain songket dapat dibaca bukan hanya dari keindahan visualnya, tetapi juga melalui simbol dan nilai yang terkandung dalam ragam hiasnya.
Penelitian tentang karakter dalam motif songket Minangkabau menyebut kain tersebut sebagai salah satu benda adat budaya yang memiliki nilai pendidikan karakter. Motif pada kain dipandang membawa nilai dan pesan yang berkaitan dengan kehidupan masyarakat Minangkabau.
Berkaitan dengan pakaian adat dan upacara
Kedudukan songket juga berkaitan dengan penggunaannya dalam berbagai konteks adat. Kain tersebut digunakan sebagai bagian dari pakaian tradisional dalam kegiatan dan upacara tertentu.
Keistimewaan songket terlihat dari tingkat kerumitan pengerjaannya, penggunaan bahan, serta motif yang menghiasi kain. Dalam tradisi Minangkabau, kain songket menjadi bagian dari perlengkapan busana adat dan memiliki fungsi simbolis bagi pemakainya.
Karena nilai tersebut, songket tidak sekadar dipandang sebagai hasil kerajinan tangan. Proses pembuatannya sekaligus menjadi bagian dari pewarisan pengetahuan budaya dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Dari kain adat ke inspirasi perlengkapan ibadah
Jejak budaya tersebut kemudian menjadi inspirasi bagi SASKARA dalam mengembangkan koleksi Bungo Ameh yang diperkenalkan bertepatan dengan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Konseptor sekaligus desainer SASKARA, Andya Kartika, mengatakan nama Bungo Ameh berasal dari bahasa Minang yang berarti “Bunga Emas”. Koleksi tersebut terinspirasi dari kemegahan mahkota suntiang serta motif songket khas Sumatera Barat.
“Bungo Ameh terinspirasi dari kemegahan Mahkota Suntiang dan keindahan motif kain Songket khas Sumatera Barat. Susunan ornamen bunga yang berkilau pada mahkota suntiang serta motif songket yang sarat makna kami padukan untuk menghadirkan koleksi yang tidak hanya indah, tetapi juga kaya nilai budaya,” ujar Andya.
Koleksi tersebut juga mengambil inspirasi dari falsafah “Adat basandi syarak, syarak basandi Kitabullah”, yang bermakna adat berlandaskan syariat dan syariat berlandaskan Kitabullah atau Al-Qur’an.
Bungo Ameh tersedia dalam enam pilihan warna. Lini perempuan terdiri atas prayer set yang mencakup mukena, sajadah, dan pouch, serta hijab. Sementara lini laki-laki berupa sarung.
Untuk mukena, SASKARA menggunakan kain satin silk yang disebut halus, lembut, dan tidak mudah kusut. Sajadahnya dirancang agar dapat digunakan kapan pun dan di mana pun. Produk-produk tersebut juga dibuat dalam ukuran ringkas untuk memudahkan dibawa bepergian. Selain mukena, koleksi ini mencakup kerudung dan sarung dengan desain senada.
SASKARA berdiri pada 2018 dan sejak itu mengembangkan Koleksi Nusantara dengan mengangkat kekayaan budaya serta keindahan berbagai daerah Indonesia. Bungo Ameh menjadi bagian dari rangkaian tersebut, dengan Sumatera Barat dan kebudayaan Minangkabau sebagai sumber inspirasinya.
(Khafid Mardiyansyah)