Olahraga juga bisa menjaga suasana hati dan kebugaran tubuh. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa aktivitas fisik selama kehamilan berkaitan dengan risiko diabetes gestasional dan preeklamsia yang lebih rendah.
Meski begitu, manfaat tersebut tak berarti semua ibu hamil harus berlari. Pilihan olahraga perlu disesuaikan dengan kondisi kesehatan, riwayat aktivitas fisik, dan perkembangan kehamilan masing-masing.
Ada beberapa perubahan tubuh selama kehamilan yang perlu diperhatikan ketika berlari. Salah satunya adalah perubahan pusat gravitasi akibat bertambahnya berat badan dan ukuran perut. Kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan sehingga risiko terjatuh menjadi lebih besar.
Selain itu, perubahan hormon selama kehamilan membuat ligamen dan persendian menjadi lebih lentur. Akibatnya, ibu hamil bisa lebih rentan mengalami cedera, terutama ketika berlari di permukaan yang tidak rata atau jalur yang menanjak.
Sebagian ibu hamil juga mengalami nyeri pada panggul atau perut bagian bawah, termasuk nyeri akibat peregangan ligamen yang menopang rahim. Aktivitas fisik dengan intensitas tinggi dapat memperburuk ketidaknyamanan tersebut.
Bagi perempuan yang sebelumnya tidak terbiasa berlari, kehamilan bukan waktu yang tepat untuk langsung memulai olahraga berat. Jalan kaki atau aktivitas ringan lainnya dapat menjadi alternatif awal setelah mendapat persetujuan dokter.