DIBANDEROL lebih dari 1.000 euro per kilo atau sekira Rp16,8 juta, bayi belut atau angulas merupakan salah satu makanan termahal di Spanyol. Namun ketika Anda melihatnya untuk pertama kali, Anda mungkin akan bertanya-tanya mengapa itu bisa mahal?
Bayi belut bukanlah jenis penganan yang ibaratnya memohon untuk dimakan. Ketika hidup, mereka transparan dan berlendir, merayap dan menggeliat seperti ular kecil.
Setelah dimasak, mereka berubah menjadi buram dan menyerupai cacing pincang yang mati. Saat siap disantap, hewan itu berwarna putih dengan dua titik hitam kecil sebagai mata. Sudah merasa lapar?
Namun banyak penganan lezat, penampilannya tidak rupawan; yang paling penting adalah rasa. Di sinilah keanehannya. Angulas tidak berasa enak atau lezat. Rasanya justru tidak ada sama sekali. Ini aneh karena angulas bukan main mahal.
Bahkan, lebih aneh lagi, legenda menyebutkan bahwa angulas tidak dihargai sehingga digunakan sebagai makanan ayam dan babi. Bagaimanapun, memang ketika menyangkut belut, semuanya aneh.
Banyak orang Spanyol sulit memahami mengapa sejumlah orang mau membayar mahal untuk angulas, termasuk saya.
Sebagai penulis dan podcaster mengenai makanan dan budaya Spanyol, saya merasa itu membingungkan. Terutama karena resep tradisional (a la bilbaína) menyebutkan bahwa cara memasak angulas ialah menggoreng bawang putih dan cabai merah dalam minyak zaitun yang banyak terlebih dahulu. Bayi belut baru kemudian ditambahkan—cara pasti untuk mengalahkan rasa aslinya.

(Baca Juga: Bikin Tubuh Lebih Rileks, Olahraga Yoga Sambil Minum Bir Lagi Nge-tren)
Bagaimanapun, belut adalah makhluk misterius, apalagi menyangkut cara hidupnya, yang terdengar seperti dongeng kelam.
Belut tinggal di air tawar, namun dapat bernapas melalui kulit dan berkelana di daratan dengan jarak yang cukup jauh. Mereka makan apa saja, sesuatu yang hidup atau mati.
Dan ketika berusia 10 bulan atau lebih, mereka berenang ke hilir sungai menyeberangi Eropa ke Samudera Atlantik dan terkadang (masih belum diketahui sains) mereka menemukan cara menuju Laut Sargasso, sejauh 5.000 km.
Di kedalaman lebih dari 500 meter—sebuah prestasi bagi makhluk yang lebih banyak menghabiskan hidupnya di air tawar yang dangkal—mereka bertelur dan mati. Adapun anak-anak mereka yang baru menetas hanyut menuju Eropa, sebuah perjalanan yang memakan waktu setidaknya dua tahun.