Ketika angulas akhirnya tiba di pesisir Spanyol, para nelayan dengan sendok jaring menunggu mereka.
Musim penangkapan dimulai pada November, dan saat terbaik untuk menangkap mereka adalah pada saat tengah malam yang terdingin, paling gelap dan hujan ketika ombak besar dan airnya keruh.
Angulas sangat mahal. Tangkapan pertama yang dilelang setiap tahun adalah yang termahal. Pada 2016, rombongan pertama dengan berat 1,25 kilo terjual seharga 5.500 euro (Rp92,8 juta). Grosir.
Namun, rombongan kedua dengan berat yang hampir sama, terjual 'tak lebih' dari 1.070 euro (Rp18 juta).
Jadi mengapa harganya berbeda? Sama-sama bayi belut, dibeli hanya selang beberapa menit. Bahkan yang lebih ganjil kedua rombongan tersebut dibeli oleh pria yang sama.

Ketika mengenai belut, semuanya menjadi aneh
(Baca Juga: 6 Misteri Besar Tak Terpecahkan soal Bumi, dari Dinosaurus hingga Asal Namanya)
Saya melacak pembelinya, José Gonzalo Hevia, pemilik restoran Casa Tista di Asturias. Saya lalu mewawancarainya.
"Pembelian itu bertujuan memasarkan restoran saya dan juga sebagai bentuk penghormatan untuk nelayan," kata Gonzalo Hevia, yang sekarang sudah pensiun.
Dia pernah menjadi seorang nelayan penangkap angulas juga.
"Atmosfer pada saat lelang sangat menyenangkan. Itu merupakan acara besar yang diliput media. Hari berikutnya, nama restoran saya ada di setiap surat kabar dan stasiun televisi."
Publisitas seperti itu dapat membawa banyak konsumen.
"Beberapa klien saya datang 20 atau 30 kali dalam semusim untuk makan angulas," tambah Gonzalo Hevia.
Ketika saya bertanya padanya apa yang spesial tentangnya, dia mengatakan, "Teksturnya lebih dari apapun."
Namun tekstur tidaklah spesial bagi saya. Saya ingat ketika makan angulas, teksturnya sangat licin, dan sedikit keras.
Masih penasaran mengapa sejumlah orang rela membayar mahal untuk makan angulas, saya mengunjungi Arima—sebuah restoran Basque yang terkenal di Madrid—dan berbicara dengan kepala juru masaknya, Rodrigo García Fonseca.
García Fonseca, yang menyajikan 3 kilogram angulas dalam satu pekan pada Januari lalu, juga seorang a la bilbaína, berkata:
"Saya tidak akan membayarnya sedemikian mahal. Mereka tidak memiliki rasa, tidak berwarna, tidak ada, bahkan tidak berbau. Sebuah selada lebih beraroma. Namun saya bertemu dua pria di sini yang memesan setengah kilo angula. Lima ratus euro sekali makan. Sejumlah orang yang memiliki uang senang menghabiskannya untuk itu. Siapa sih yang sekali-sekali tidak ingin jadi sombong?"
Saya juga berbincang dengan Nagore Irazuegi, pemilik Arima, yang juga berasal dari Basque. Di kawasan utara Spanyol itu, angulas mendarah daging dalam menu tradisional Malam Natal, Tahun Baru dan Hari Santo Sebastian pada 20 Januari.
"Harganya terlalu mahal, namun beberapa orang suka pamer," kata dia.
Namun dia buru-buru menambahkan bahwa ada yang lebih dari itu. "Pada hari-hari khusus, merupakan sebuah tradisi untuk memakannya. Dan itu mengikat sekelompok orang dari kelas tertentu. Ini lebih masalah budaya. Orang ingin menjadi bagian dari budaya itu, lebih dari apapun."
Apakah bayi belut pernah menjadi pakan ternak atau tidak (setiap orang yang berbicara dengan saya pernah mendengar cerita yang sama, namun buktinya sangat sedikit), tidak ada keraguan bahwa bayi belut sempat menjadi hidangan bagi kelas pekerja di Spanyol bagian utara.
Namun itu ketika angulas masih sangat berlimpah dan murah. Seiring dengan makin langkanya angulas dan harganya meningkat, sebuah perusahaan bernama Angulas Aguinaga melihat sebuah peluang.
Pada 1991, dengan menggunakan surimi— sebuah pasta yang dibuat dari ikan olahan—mereka membuat angulas imitasi, yang disebut gulas. Bentuk gulas tampak serupa dengan angulas dan rasa gulas lebih halus serta samar-samar terasa amis.
Produk itu sangat populer sehingga Anda bisa menemukannya di setiap toko kelontong di Spanyol.