Permintaannya sangat banyak
Salah satu alasan mengapa angulas sangat mahal adalah bahwa waduk dan penurunan kualitas lingkungan telah menyusutkan jumlah belut. Pengambilan yang berlebihan juga merupakan salah satu alasannya. Bahkan, belut saat ini masuk dalam hewan yang terancam punah.
Di masa lalu, angulas hidup diekspor ke Cina. Di sana hewan itu digemukkan dan dijual sebagai belut dewasa, namun itu dilarang sejak 2010 lalu. Tetap saja, pasar gelap tetap berlanjut.
Pada 2017, kepolisian Spanyol mengungkap operasi perdagangan internasional angula. Ketika dilakukan penggrebekan, ditemukan tempat penyimpanan emas, uang tunai 1 juta euro, dan juga angulas hidup senilai 2 juta euro yang ditujukan ke Cina.
Juru masak restoran bintang tiga versi Michelin juga berperan dalam peningkatan harga.
Manolo González, penulis makanan peraih penghargaan merangkap sejarawan dari San Sebastian sekaligus sekretaris klub gastronomi terkenal Cofradía del Ajo y el Perejil (Persaudaraan bawang putih dan peterseli), menjelaskan.
"Saat saya masih muda, pada 1950an dan 1960an, kami mengkonsumsi banyak sekali angulas. Pada saat itu, hewan itu masih dianggap terlalu rendah kelasnya untuk disajikan di sebuah restoran. Namun pada tahun 70an, restoran Basque besar seperti Arzak mencoba memasaknya, dan secara mendadak, kelas angulas meningkat tinggi."
Saat ini angulas tak hanya langka, namun juga dianggap penganan yang tren. Ada banyak permintaan. Harganya melangit.
Dan mereka masih populer. Mengapa?
"Ekslusivitas selalu memainkan peran dalam gastronomi," jelas González.
(Baca Juga: 5 Rahasia Agar Anda Tak Pernah Sakit, Coba Ikuti Sejak Dini)
Dia mengibaratkannya seperti pembelian minuman anggur seharga 5.000 euro (Rp84 juta) per botol, yang sebenarnya melebihi nilai sesungguhnya, namun dipandang layak bagi beberapa orang untuk menunjukkan status.
Walau mengakui bahwa angulas tidak terlalu memiliki rasa, González menikmati teksturnya.
"Dan bagi pecinta makanan, pada acara khusus, 80 euro (Rp1,3 juta) untuk sebuah makanan pembuka tidak sepenuhnya di luar jangkauan."
González mengaku tidak memasak angulas lagi karena harga yang tinggi. Meski demikian rasa angula yang dimasak dengan minyak, bawang putih dan cabai pedas masih menyimpan kenangan indah.
"Anda bisa membuat hidangan yang sama namun menggunakan spaghetti. Kami menyebutnya Angula untuk Orang Miskin," kata dia menggambarkan sebuah ironi.
"Cobalah, Anda akan mengetahui betapa lezatnya!"
(Santi Andriani)