JAKARTA - Anak-anak, terutama bayi dan balita, menjadi salah satu kelompok yang perlu mendapat perhatian lebih ketika kasus influenza meningkat. Kondisi sistem kekebalan tubuh yang masih berkembang membuat anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami infeksi dibandingkan orang dewasa.
Unit Kerja Koordinasi (UKK) Infeksi Penyakit Tropik Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI), Prof. DR. Dr. Anggraini Alam, Sp.A, Subsp. IPT(K), menjelaskan bahwa influenza memiliki karakteristik berbeda dengan selesma atau common cold. Virus influenza dapat berkembang biak di dalam sel tubuh dan memicu peradangan yang kemudian menimbulkan berbagai gejala.
“Bagaimana sih begitu si virus itu masuk? Ingat, tidak sama influenza atau flu itu sama dengan selesma atau common cold. Flu dia itu lebih berat dan begitu dia masuk, dia akan mengikuti bagaimana RNA, DNA, genetik kita, sehingga dia bisa memperbanyak dirinya di dalam sel kita sampai sel kita rusak, kemudian dia akan dikeluarkan,” ujar Prof. Anggraini dalam konferensi pers IDAI secara daring.
Setelah berhasil masuk ke dalam tubuh, virus influenza akan memperbanyak diri di dalam sel. Ketika partikel virus baru dilepaskan, jaringan saluran pernapasan kemudian mengalami respons peradangan sebagai bagian dari mekanisme pertahanan tubuh.
“Begitu dikeluarkan dia banyak, dia ke jaringan-jaringan untuk pernapasan menyebabkan adanya peradangan. Nah, peradangan ini yang memperlihatkan tanda dan gejala sakit, peradangan ini bisa pulih berminggu-minggu," ucapnya.
Prof. Anggraini juga menjelaskan bahwa infeksi dapat menimbulkan gejala yang bersifat sistemik apabila virus dan respons tubuh tidak hanya terbatas pada saluran pernapasan.
"Bayangkan bilamana si virus itu dari saluran napas bisa masuk ke pembuluh darah. Nah, di sinilah dengan berbagai sistem imunnya, tidak heran bilamana yang namanya tanda dan gejala itu sistemik,” katanya.
Respons peradangan tersebut kemudian memunculkan berbagai keluhan yang menjadi ciri influenza. Kondisinya berbeda dengan selesma yang umumnya menimbulkan gejala lebih ringan dan terbatas pada saluran pernapasan.
Gejala influenza dapat muncul setelah masa inkubasi yang relatif singkat. Penderita dapat mengalami demam, nyeri tubuh, hingga sakit tenggorokan.
“Jadi tanda dan gejalanya itu mulai dengan adanya, mulai dari inkubasi, masuk si virusnya, mulailah ada demam. Kemudian diikuti dengan nyeri-nyeri tubuh, ini karena dia sudah sistemik ke badan kita. Kemudian ini bisa ada nyeri tenggorokan juga,” kata Prof. Anggraini.
Selain itu, batuk kering dan rasa tidak nyaman pada tenggorokan juga menjadi keluhan yang dapat menyertai influenza. Rasa lelah atau mudah lelah bahkan dapat bertahan ketika gejala utama mulai membaik.
“Flu itu justru menyebabkan batuk kering, gatal, seret kayak ada pasir di tenggorokannya, itu bisa berkepanjangan. Belum lagi ada rasa lelah, kemudian ada cepat capek, kok nggak seger-seger, itu khas sekali pada influenza yang memiliki tahapan mulai dari awal, kemudian makin berat, paling puncaknya di hari ke-4 sampai 5, mulailah penyembuhan. Walaupun dia recovery, tetapi tidak nyamannya bahkan bisa 2 mingguan lebih,” paparnya.
Menurut Prof. Anggraini, anak-anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang dan belum memiliki paparan terhadap berbagai jenis virus influenza sebanyak orang dewasa.
“Penelitian ini sampai anak 17 tahun, dua kali lipat untuk mengalami flu yang bergejala dibandingkan dewasa. Dan anak-anak itu belum banyak terpapar oleh luar flu, sehingga yang masih kosong, rendah, belum mencukupi daya tahan tubuhnya, mudah terinfeksi,” tutur Prof. Anggraini.
Risiko tersebut juga dapat meningkat pada anak dengan kondisi tertentu maupun mereka yang banyak melakukan aktivitas di lingkungan dengan kepadatan tinggi. Tempat penitipan anak atau daycare menjadi salah satu lingkungan yang dapat meningkatkan peluang terjadinya penularan.
“Sehingga tidak heran, balita, kemudian yang memiliki komorbid terutama neurologi, atau yang butuh perawatan lama, atau anak-anak yang di daycare karena padat, termasuk juga di area yang padat, itu berisiko untuk terinfeksi oleh influenza,” ucapnya.
Karena itu, orangtua perlu memperhatikan kondisi anak ketika muncul gejala seperti demam, batuk, nyeri tubuh, sakit tenggorokan, atau kelelahan yang cukup berat. Anak yang memiliki kondisi medis tertentu juga perlu mendapat perhatian lebih dan diperiksakan ke tenaga kesehatan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)