Menurut Prof. Anggraini, anak-anak memiliki risiko lebih tinggi mengalami influenza bergejala dibandingkan orang dewasa. Salah satu faktor yang berpengaruh adalah sistem kekebalan tubuh anak yang masih berkembang dan belum memiliki paparan terhadap berbagai jenis virus influenza sebanyak orang dewasa.
“Penelitian ini sampai anak 17 tahun, dua kali lipat untuk mengalami flu yang bergejala dibandingkan dewasa. Dan anak-anak itu belum banyak terpapar oleh luar flu, sehingga yang masih kosong, rendah, belum mencukupi daya tahan tubuhnya, mudah terinfeksi,” tutur Prof. Anggraini.
Risiko tersebut juga dapat meningkat pada anak dengan kondisi tertentu maupun mereka yang banyak melakukan aktivitas di lingkungan dengan kepadatan tinggi. Tempat penitipan anak atau daycare menjadi salah satu lingkungan yang dapat meningkatkan peluang terjadinya penularan.
“Sehingga tidak heran, balita, kemudian yang memiliki komorbid terutama neurologi, atau yang butuh perawatan lama, atau anak-anak yang di daycare karena padat, termasuk juga di area yang padat, itu berisiko untuk terinfeksi oleh influenza,” ucapnya.
Karena itu, orangtua perlu memperhatikan kondisi anak ketika muncul gejala seperti demam, batuk, nyeri tubuh, sakit tenggorokan, atau kelelahan yang cukup berat. Anak yang memiliki kondisi medis tertentu juga perlu mendapat perhatian lebih dan diperiksakan ke tenaga kesehatan apabila mengalami gejala yang mengkhawatirkan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)