JAKARTA - Tidur bukan sekadar waktu bagi tubuh untuk beristirahat setelah menjalani aktivitas seharian. Kualitas dan durasi tidur turut berperan dalam menjaga kesehatan fisik maupun mental. Jika seseorang terus-menerus tidur dalam waktu yang kurang, berbagai masalah kesehatan dapat muncul dan memengaruhi kualitas hidup.
Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyebutkan, orang dewasa umumnya membutuhkan sekitar 7-9 jam tidur setiap malam. Kebutuhan tersebut dapat berbeda pada setiap individu, tetapi tidur yang terlalu sedikit secara terus-menerus sebaiknya tidak dianggap sebagai kebiasaan yang normal.
Melansir Health Partners, kurang tidur atau tidur yang sering terputus dikaitkan dengan sejumlah risiko kesehatan, di antaranya:
Tidur bahkan kerap disebut sebagai salah satu fondasi utama kesehatan bersama dengan pola makan bergizi dan aktivitas fisik. Ketiganya perlu dijaga secara seimbang untuk mendukung kondisi tubuh secara optimal.
Masalah tidur dan kecemasan dapat muncul secara bersamaan sehingga tidak selalu mudah menentukan kondisi mana yang lebih dulu terjadi. Kecemasan dapat membuat seseorang sulit tidur, tetapi gangguan tidur yang berlangsung dalam waktu lama juga dapat memperburuk kondisi psikologis.
Pada beberapa orang, gangguan tidur bahkan dapat tetap berlangsung meskipun pemicu kecemasannya sudah ditangani. Begitu pula sebaliknya, kecemasan yang muncul akibat masalah tidur dapat bertahan setelah gangguan tidurnya membaik.
Beberapa masalah tidur yang berkaitan dengan kecemasan antara lain sebagai berikut.
Ada orang yang merasa cemas bukan karena persoalan tertentu, melainkan karena memikirkan aktivitas tidur itu sendiri. Mereka dapat khawatir tidak akan segera terlelap, terbangun di tengah malam, mengalami mimpi buruk, berjalan saat tidur, atau mengalami kelumpuhan tidur.
Kekhawatiran tersebut dapat semakin kuat ketika waktu tidur tiba. Jika terjadi berulang kali, seseorang bahkan dapat mulai menganggap waktu tidur sebagai sesuatu yang menakutkan.
Pada kondisi ini, seseorang mungkin merasa baik-baik saja pada siang hari. Namun, rasa cemas dapat kembali muncul ketika mulai bersiap untuk tidur.
Insomnia merupakan gangguan tidur yang membuat seseorang kesulitan untuk tertidur, mempertahankan tidur, atau mendapatkan tidur yang berkualitas.
Kondisi ini dapat berlangsung dalam waktu singkat maupun menetap. Insomnia akut umumnya berlangsung kurang dari tiga bulan dan dapat muncul ketika seseorang menghadapi periode penuh tekanan.
Sementara itu, insomnia kronis terjadi setidaknya tiga malam dalam seminggu selama tiga bulan atau lebih. Kecemasan yang berulang dan membuat seseorang terus terjaga pada malam hari dapat berkontribusi terhadap munculnya insomnia.
Serangan panik juga dapat terjadi ketika seseorang sedang tidur. Kondisi ini membuat seseorang terbangun secara tiba-tiba dengan rasa takut atau panik yang intens.
Gejalanya dapat berupa sesak napas, berkeringat, tubuh gemetar, serta jantung berdebar dengan cepat. Setelah serangan berakhir, seseorang mungkin membutuhkan waktu untuk kembali tenang dan tidur.
Kekhawatiran bahwa serangan serupa akan terjadi lagi juga dapat membuat seseorang semakin sulit kembali terlelap.
Sebuah penelitian yang dikutip dalam sumber menyebutkan bahwa hingga 71 persen orang yang mengalami serangan panik pada siang hari pernah mengalami setidaknya satu serangan panik pada malam hari.
Kesulitan tidur yang terus berulang sebaiknya tidak diabaikan, terlebih jika sudah mengganggu aktivitas sehari-hari atau disertai kecemasan yang sulit dikendalikan.
Langkah awal yang dapat dilakukan adalah berkonsultasi dengan dokter. Pemeriksaan dapat membantu mencari penyebab gangguan tidur dan menentukan penanganan yang sesuai.
Jika diperlukan, dokter juga dapat merujuk pasien kepada tenaga profesional di bidang kesehatan mental maupun layanan khusus gangguan tidur. Dengan mengetahui penyebabnya secara tepat, masalah tidur dan kecemasan dapat ditangani secara lebih terarah.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)