Cuaca Panas Ekstrem, Ini Kata Dokter agar Terhindar dari Heatstroke

Agustina Wulandari , Jurnalis
Minggu 16 Agustus 2026 12:05 WIB
Ilustrasi heatstroke. (Foto: dok Magnific/jcomp)
Share :

JAKARTA - Cuaca panas ekstrem bisa meningkatkan risiko heatstroke atau serangan panas, terutama pada anak-anak dan lansia. Wakil Menteri Kesehatan Dante Harbuwono menjelaskan heatstroke dimulai dari gejala awal misalnya sakit kepala, menjadi lemas, kalau heatstroke lebih parah bisa timbul kejang-kejang, bahkan bisa mengalami penurunan kesadaran. So, jangan anggap remeh cuaca panas ya! 

Menurut dr. Junya Shimazaki, dosen Kedokteran Gawat Darurat di Kansai Medical University, ada beberapa langkah penting yang bisa dilakukan untuk mencegah dampak buruk gelombang panas.

Melansir The Standard, kuncinya bukan hanya minum air yang cukup, tetapi juga menjaga keseimbangan elektrolit, memahami perbedaan suhu di dalam dan luar ruangan, serta membiasakan tubuh beradaptasi dengan cuaca panas.

Tips Cegah Heatstroke

Ini beberapa tips cerdas agar terhindar dari heatstroke menurut dr. Shimazaki.

1. Saat di luar ruangan, hindari sinar matahari langsung

Risiko terbesar saat berada di luar adalah paparan sinar matahari secara langsung. Karena itu, sebaiknya pakai topi, gunakan pakaian yang longgar dan mudah menyerap keringat, pilih tempat yang teduh, dan gunakan payung. Pakaian berwarna terang, seperti putih, lebih baik dalam memantulkan panas dibandingkan warna gelap seperti hitam.

2. Di dalam rumah juga bisa berbahaya

Banyak orang mengira berada di dalam rumah selalu aman dari panas. Padahal, suhu di dalam ruangan bisa berbeda-beda. Area dekat jendela yang terkena sinar matahari langsung bisa menjadi titik paling panas. Karena itu, gunakan tirai atau gorden yang bisa menghalangi sinar matahari.

Bagaimana dengan membuka jendela?

Kalau suhu di luar belum terlalu tinggi, membuka jendela memang bisa membantu sirkulasi udara. Namun, saat suhu luar mencapai 35–40 derajat Celsius, membuka jendela justru bisa memasukkan udara panas ke dalam rumah.

Dalam kondisi seperti itu, menggunakan AC adalah pilihan yang lebih aman. Jangan ragu menyalakan AC hanya karena ingin menghemat listrik jika kondisi panas sudah ekstrem.

3. Anak-anak membutuhkan perhatian lebih

Anak-anak lebih mudah mengalami kepanasan karena luas permukaan tubuh mereka lebih besar dibandingkan berat badannya, dan sistem pengaturan suhu tubuh mereka belum berkembang sempurna.

Orang tua perlu lebih waspada kalau tubuh anak terasa sangat panas, segera pindahkan ke tempat yang lebih sejuk, hentikan aktivitasnya, dan bantu mendinginkan tubuhnya.

Hal penting lainnya, anak sering kali tidak menyadari bahwa mereka haus, jadi orang tua perlu mengingatkan mereka untuk minum sebelum, selama, dan setelah beraktivitas.

Perhatikan juga frekuensi buang air kecil. Jika anak tidak buang air kecil selama setengah hari, itu bisa menjadi tanda dehidrasi berat. Urine yang sangat sedikit dan berwarna kuning tua juga menandakan tubuh kekurangan cairan.

Yang paling berbahaya adalah ketika anak berada di lingkungan panas tetapi berhenti berkeringat. Itu berarti mekanisme pendinginan tubuhnya mulai gagal dan kondisi tersebut termasuk keadaan darurat medis.

4. Rutin Minum Air

Minum air putih. (Foto: dok Magnific)

Tubuh kehilangan cairan saat tidur karena berkeringat. Karena itu, biasakan minum air segera setelah bangun tidur.

Sebelum berolahraga atau melakukan aktivitas fisik, minumlah air terlebih dahulu. Saat beristirahat, minum sedikit demi sedikit tetapi sering.

Jangan menunggu rasa haus muncul. Dalam kondisi normal, sebagian besar aktivitas fisik tidak membutuhkan tambahan garam.

Kekurangan garam biasanya terjadi ketika seseorang berkeringat sangat banyak lalu hanya minum air putih dalam jumlah besar, sehingga kadar natrium dalam tubuh menjadi terlalu rendah.

Kalau berkeringat banyak, lebih baik pilih minuman olahraga atau oralit, karena kandungan air, garam, dan gulanya lebih seimbang. Jika hanya minum air putih atau teh dalam waktu lama, sebaiknya disertai makanan yang mengandung sedikit garam.

5. Biasakan tubuh beradaptasi dengan panas

Salah satu cara mencegah heatstroke adalah melakukan adaptasi terhadap panas sejak awal musim panas. Ketika tubuh sudah terbiasa dengan suhu panas, proses berkeringat menjadi lebih efisien. Tubuh bisa mendinginkan diri lebih cepat dengan kehilangan garam yang lebih sedikit.

Caranya adalah membiasakan diri berkeringat secara aktif. Lakukan olahraga ringan hingga sedang, seperti jalan cepat, setiap hari agar tubuh mulai terbiasa mengeluarkan keringat.

Kalau sepanjang hari hanya berada di ruangan ber-AC, tubuh akan lebih sulit beradaptasi. Meski begitu, tubuh yang sudah beradaptasi tetap tidak berarti aman melakukan aktivitas berat di tengah cuaca yang sangat panas.

6. Tidur cukup

Ketahanan tubuh terhadap panas sangat dipengaruhi oleh gaya hidup. Tiga hal yang paling penting adalah tidur yang cukup, makan teratur, dan minum air sedikit demi sedikit sepanjang hari.

Penelitian menunjukkan bahwa kurang tidur, insomnia, atau melewatkan sarapan dapat meningkatkan risiko heatstroke meskipun tingkat aktivitasnya sama. Memulai hari dengan segelas air hangat juga bisa membantu memenuhi kebutuhan cairan tubuh.

Menurut Dr. Shimazaki, pencegahan heatstroke bukan hanya soal bertahan saat cuaca sedang sangat panas, tetapi juga tentang mempersiapkan tubuh sejak awal, menjaga hidrasi, dan mengenali tanda-tanda dehidrasi sedini mungkin.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya