“Tapi bukan berarti seluruh atap seng harus langsung diganti dengan ijuk. Ijuk juga punya tantangan, mudah terbakar kalau tidak diproteksi, membutuhkan perawatan, tenaga pemasang khusus, dan belum tentu cocok untuk bangunan tinggi atau atap yang akan dipasang panel surya,” tutur Bang Sap.
Karena itu, menurutnya, pemilihan material atap sebaiknya tidak hanya didasarkan pada jenis bahan tertentu. Faktor keamanan, ketahanan, biaya, kondisi lingkungan, hingga karakteristik wilayah juga perlu menjadi pertimbangan.
“Jadi, solusinya bukan memaksakan satu material untuk semua rumah. Yang dibutuhkan adalah standar atap yang sejuk, aman, tahan lama, terjangkau, dan sesuai sama kondisi daerahnya,” kata dia.
Ia menilai penggunaan kembali material lokal seperti ijuk bukan berarti masyarakat harus meninggalkan teknologi modern. Sebaliknya, material tradisional dapat menjadi salah satu alternatif untuk menjawab kebutuhan hunian yang lebih adaptif terhadap kondisi lingkungan.
“Kembali memakai material lokal seperti ijuk bukan berarti mundur ke masa lalu. Bisa jadi kita sedang mengambil teknologi lama untuk menjawab krisis energi di masa depan,” pungkasnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.