Berbeda dengan ijuk, material seng memiliki karakteristik yang lebih cepat menghantarkan panas. Kondisi tersebut dapat membuat suhu di dalam rumah meningkat, terutama ketika atap digunakan tanpa plafon sebagai lapisan tambahan.
“Atap seng itu tipis dan cepat menghantarkan panas. Apalagi kalau dipasang tanpa plafon. Akibatnya, siang hari panas dari atap langsung masuk ke dalam rumah,” ujarnya.
Bang Sap juga menyinggung penggunaan atap berbahan asbes. Menurut dia, material tersebut perlu mendapat perhatian karena mengandung asbestos yang dapat membahayakan kesehatan apabila seratnya terlepas dan terhirup.
Meski memiliki sejumlah kelebihan, Bang Sap mengingatkan bahwa ijuk tidak serta-merta menjadi material yang harus menggantikan seluruh jenis atap yang digunakan saat ini.
Ijuk memiliki sejumlah keterbatasan, antara lain lebih mudah terbakar apabila tidak mendapatkan perlindungan yang memadai. Material tersebut juga membutuhkan perawatan dan tenaga pemasangan yang memiliki keahlian khusus. Selain itu, penggunaannya belum tentu sesuai untuk bangunan bertingkat atau rumah yang akan dilengkapi panel surya.