Detect Me merupakan bagian dari proyek riset ULTRALIGHT yang melibatkan sejumlah institusi, seperti Universitas Padjadjaran, Institut Teknologi Bandung, Telkom University, Poltekkes Kemenkes Kupang, Rumah Sakit Hasan Sadikin, serta University of Newcastle Australia.
Penelitian ini dilakukan di sejumlah wilayah yang dinilai memiliki kerentanan tinggi, seperti Jawa Barat, Nusa Tenggara Timur, Maluku, hingga komunitas pengungsi di Australia.
Meski menawarkan solusi, penggunaan teknologi ini tidak lepas dari tantangan. Associate Professor Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran, Restuning Widiasih, mengungkapkan bahwa tidak semua ibu hamil langsung nyaman menggunakan alat tersebut secara mandiri.
Sebagian masih terbiasa dengan sistem pelayanan pasif, di mana tenaga kesehatan yang datang memeriksa. Perubahan ke pola yang lebih mandiri membutuhkan pendekatan dan edukasi yang tidak sederhana.
Namun, di sisi lain muncul temuan menarik. Ketika alat digunakan di rumah, anggota keluarga terutama suami justru menjadi lebih terlibat dalam proses pemantauan kehamilan. Mereka ikut membantu penggunaan alat hingga memperhatikan kondisi janin.