Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengapa Nafsu Makan Sulit Dikontrol Saat Berbuka Puasa?

Kurniasih Miftakhul Jannah , Jurnalis-Sabtu, 07 Maret 2026 |18:05 WIB
Mengapa Nafsu Makan Sulit Dikontrol Saat Berbuka Puasa?
Mengapa Nafsu Makan Sulit Dikontrol Saat Berbuka Puasa? (Foto: Shutterstock)
A
A
A

JAKARTA – Banyak orang merasa sulit mengendalikan nafsu makan saat waktu berbuka tiba setelah seharian menjalani puasa di bulan Ramadan. Kondisi ini sering membuat seseorang makan dalam porsi besar, memilih makanan tinggi gula dan lemak, atau makan terlalu cepat tanpa disadari.

Jika kebiasaan tersebut terus dilakukan, pola berbuka yang tidak seimbang dapat menimbulkan berbagai masalah kesehatan, mulai dari gangguan pencernaan hingga meningkatkan risiko Diabetes dan Kolesterol Tinggi.

Mengapa Kita Cenderung “Balas Dendam” Saat Berbuka?

Secara fisiologis, tubuh yang berpuasa selama berjam-jam mengalami perubahan hormon yang mengatur rasa lapar dan kenyang. Salah satu hormon utama yang berperan adalah Ghrelin, yang sering disebut sebagai hormon lapar.

Kadar ghrelin meningkat ketika lambung kosong dan akan mengirim sinyal ke otak bahwa tubuh membutuhkan energi. Karena itu, menjelang waktu berbuka rasa lapar biasanya terasa jauh lebih kuat dibandingkan pada waktu makan biasa.

Selain itu, tubuh juga berada dalam kondisi defisit energi setelah tidak menerima asupan makanan dan cairan dalam waktu lama. Ketika makanan akhirnya tersedia, otak secara alami mendorong tubuh untuk segera mengganti energi yang hilang. Dorongan ini sering muncul sebagai keinginan makan dalam jumlah banyak sekaligus.

Fenomena ini juga berkaitan dengan perilaku Binge Eating atau makan berlebihan. Beberapa penelitian menunjukkan bahwa periode puasa yang panjang dapat memicu perilaku makan impulsif setelahnya.

Akibatnya, kombinasi antara rasa lapar yang intens dan ketersediaan makanan dalam jumlah besar membuat seseorang lebih mudah makan secara berlebihan saat berbuka.

Dampak Makan Berlebihan Saat Berbuka

1. Lonjakan Gula Darah

Makanan manis dan karbohidrat sederhana yang dikonsumsi dalam jumlah besar dapat menyebabkan gula darah meningkat dengan cepat. Setelah itu, kadar gula darah bisa turun secara drastis sehingga tubuh terasa lemas atau mengantuk.

2. Beban Kerja Sistem Pencernaan

Lambung yang kosong selama berjam-jam harus bekerja lebih keras ketika tiba-tiba menerima makanan dalam jumlah besar. Kondisi ini dapat menimbulkan berbagai keluhan seperti:

  • Perut terasa begah dan kembung
  • Mual
  • Rasa tidak nyaman di bagian ulu hati

3. Risiko Diabetes

Pola makan berlebihan saat berbuka dapat mengganggu keseimbangan gula darah, terutama jika terjadi setiap hari selama Ramadan.

Lonjakan gula darah yang berulang dapat membuat tubuh kesulitan mengatur insulin. Dalam jangka panjang, kondisi ini bisa meningkatkan risiko resistensi insulin yang berhubungan dengan Diabetes Tipe 2.

Risiko ini juga lebih besar pada orang yang sudah memiliki kondisi pra-diabetes.

4. Risiko Kolesterol Tinggi

Selain gula darah, pola berbuka yang tidak sehat juga dapat memengaruhi kadar kolesterol.

Makanan seperti gorengan, santan, dan makanan tinggi lemak jenuh yang sering dikonsumsi saat berbuka dapat meningkatkan kadar kolesterol jahat atau LDL jika dimakan secara berlebihan.

Cara Berbuka yang Lebih Sehat

Agar tubuh tetap nyaman setelah berpuasa, beberapa langkah sederhana dapat dilakukan saat berbuka, seperti:

  • Memulai berbuka dengan makanan ringan seperti buah atau kurma
  • Minum air putih terlebih dahulu sebelum makan besar
  • Menghindari makan terlalu cepat
  • Mengatur porsi makanan secara bertahap

Dengan pola makan yang lebih seimbang, tubuh dapat beradaptasi dengan baik setelah berpuasa seharian tanpa menimbulkan gangguan kesehatan.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement