“Motorik kasar itu melibatkan otot, tulang, dan keseimbangan. Jadi, memang anak tidak boleh jauh dari aktivitas bergerak. Memanjat boleh, belajar naik tangga boleh, tetapi orang tua tetap menemani di belakang, menjaga, bukan terus melarang,” ujarnya.
Prof. Rini juga mengimbau para orang tua untuk tidak terlalu sering melontarkan kata “jangan” kepada anak. Ia menilai, orang tua sangat wajar untuk berhati-hati dalam menjaga anak, namun bukan berarti banyak melarang eksplorasi.
“Coba dihitung berapa kali bilang ‘jangan’ ke anak dalam sehari. Boleh hati-hati, tetapi jangan terlalu banyak melarang. Pengasuhan yang alamiah itu justru mengikuti anak, bukan mengekang,” katanya.
Prof. Rini menjelaskan, pola asuh yang terlalu protektif justru dapat menghambat proses belajar alami anak. Ia menegaskan, eksplorasi anak dapat dilakukan di dalam hingga luar ruangan dengan pengawasan yang wajar.
“Dulu anak-anak bisa tumbuh baik karena diasuh secara natural. Sekarang jangan terlalu takut kotor atau takut jatuh, tetapi tetap aman,” tutupnya.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)