Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Alasan Unik Kenapa Natto Sulit Dimakan Para Peselancar Jepang

Anisya Putri Fadhilah , Jurnalis-Rabu, 28 Agustus 2024 |22:40 WIB
Alasan Unik Kenapa Natto Sulit Dimakan Para Peselancar Jepang
Alasan Unik Kenapa Natto Sulit Dimakan Para Peselancar Jepang (Foto: TheJapanstore)
A
A
A

NATTO bisa dibilang jadi salah satu makanan khas Jepang yang kepopulerannya makin meroket beberapa waktu belakangan ini, salah satunya karena peran massif sosial media.

Banyak yang penasaran dengan sajian kedelai fermentasi, makanan tradisional berbasis kedelai yang telah dikenal luas di Jepang satu ini.

Dikenal karena manfaat kesehatannya yang luar biasa, natto kini mendapatkan sorotan internasional sebagai superfood yang potensial. Makanan ini, yang kaya akan probiotik dan protein, salah satu alternatif untuk para pejuang diet.

Natto sendiri dikenal sebagai satu jenis makanan yang cukup sulit, tricky untuk dikonsumsi. Selain sangat lengket dan berlendir, tahukah Anda bahwa natto disebutkan ternyata sulit dimakan oleh para peselancar di Jepang?

Foto: Freepik
Foto: Freepik

Ya, dikutip dari Soranews24, Rabu (28/8/2024) ternyata natto disebutkan bisa memicu reeaksi alergi, bahkan kandungannya setara dengan sengatan ubur-ubur. Peselancar di Jepang kerap mengalami alergi keduanya, tentunya hal ini menjadi kesulitan di kalangan para peselancar di  negara Sakura tersebut.

Aktivitas berselancar bisa memicu alergi terhadap natto. Dengan aroma yang sangat tajam serta tekstur yang berserat dan lengket, natto ini jadi salah satu makanan khas Jepang yang paling diperdebatkan.

 

Fenomena aneh ini muncul secara berkala dan baru-baru ini menjadi sorotan, setelah seorang pengguna Twitter membagikan cerita bahwa sekitar 80 persen dari teman-teman peselancarnya tidak suka makan natto, karena mereka mengalami reaksi alergi karena natto.

“Sebenarnya ada hubungan tidak langsung antara berselancar dan alergi natto, dan hubungan tersebut muncul dalam bentuk salah satu hal yang tidak dapat dihindari dari menghabiskan banyak waktu di laut di Jepang: ubur-ubur,” bunyi cuitan tersebut.

Angka tersebut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan populasi umum, karena alergi terhadap natto tidak terlalu umum di Jepang.  Secara tradisional, natto kurang disukai di wilayah barat Jepang jika dibandingkan dengan bagian timur.

Disebutkan lebih lanjut, meski menyakitkan, sebagian besar sengatan ubur-ubur di Jepang tidak terlalu berbahaya. Sehingga banyak peselancar menganggapnya sebagai risiko dari hobi yang mereka geluti tersebut.

 

Tentakel ubur-ubur melepaskan zat yang dikenal sebagai asam poliglutamat (PGA), yang mengenai tubuh manusia saat tersengat. Kulit manusia tidak tahan terhadap paparan PGA dalam jumlah besar, yang menyebabkan timbulnya bentol-bentol gatal dan nyeri.

Nah, PGA ini juga dihasilkan selama proses fermentasi kedelai dalam pembuatan natto. Biasanya, jumlah PGA dalam natto cukup kecil, sehingga tidak menimbulkan masalah bagi pemakannya, namun sengatan ubur-ubur dapat meningkatkan sensitivitas terhadap PGA.

Jika sering disengat ubur-ubur, tubuh manusia pada akhirnya akan menganggap PGA sebagai sesuatu yang berlebihan, sehingga bahkan jumlah PGA dalam satu porsi natto bisa cukup untuk memicu reaksi alergi tersebut.

(Rizky Pradita Ananda)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement