Seakan-akan berkata, “kalau kamu enggak makan sekarang, kamu bisa mati!”. Sinyal tersebut merupakan pemikiran primitif yang tidak hanya berlaku pada manusia, namun juga pada hewan.
Seorang pakar perilaku nafsu makan sekaligus profesor psikologi di Reed College, Paul Currie, menemukan bahwa rasa lapar bisa membuat seseorang jadi emosional.
Makanan merupakan sumber alami otak. Otak butuh bahan bakar berupa glukosa yang didapatkan dari makanan untuk mengontrol emosi. Otak hanya terdiri dari 2 persen berat badan manusia namun menjadi organ yang paling banyak mengonsumsi energi yang dimiliki setiap hari. Rasa lapar kemudian melepas hormon kortisol dan membuat sulit untuk mengendalikan amarah.
Beberapa nutrisi yang terserap tubuh dari makanan di antaranya, karbohidrat, protein, dan lemak, yang kemudian bertransformasi menjadi glukosa, asam amino, dan asam lemak. Lalu, nutrisi yang sudah bertransformasi ini masuk ke dalam aliran darah yang menyebar ke seluruh tubuh sebagai pasokan energi.
Sebuah studi di Amerika Serikat juga menyebutkan bahwa rendahnya kadar gula dalam darah membuat seseorang menjadi mudah marah. Otak yang mengalami defisit kalori membuat produktivitasnya melambat. Makanya, saat sedang lapar, seseorang jadi susah konsentrasi, linglung, dan cenderung cepat lelah dalam beraktivitas. Selain itu, timbul rasa kantuk, bahkan bertindak ceroboh.