​IDAI Ungkap Bahaya Screen Time Berlebih pada Anak, dari Obesitas hingga Gangguan Mental

Zakky Mubarok Santosa, Jurnalis
Kamis 08 Oktober 2026 15:05 WIB
Ilustrasi anak main gawai. (Foto: dok Pexels/Alex Green)
Share :

​JAKARTA  - Dokter Anak sekaligus Ahli Tumbuh Kembang Pediatri Sosial, Dr. dr. Bernie Endyarni Medise, Sp.A(K), mengapresiasi langkah Kementerian Komunikasi dan Digital (Kemkomdigi) dalam pembatasan akses penggunaan media sosial bagi anak di bawah usia 16 tahun. Kebijakan tersebut tercantum dalam Peraturan Pemerintah tentang Tata Kelola Penyelenggaraan Sistem Elektronik dalam Perlindungan Anak (PP Tunas).

Dokter yang juga Ketua Bidang 3 Bidang Hubungan Masyarakat dan Kesejahteraan Anggota Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) ini menjelaskan bahwa aturan ini dinilai tepat, karena sedikitnya terdapat lima dampak utama yang berbahaya bagi anak jika menggunakan gawai dan media sosial secara berlebihan.   

​Menurut Bernie, durasi penggunaan gawai yang tidak terkontrol berdampak langsung pada pertumbuhan fisik akibat gaya hidup kurang bergerak (sedentary life), sehingga memicu obesitas yang berpotensi memicu penyakit hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya.

​"Kalau kebanyakan ada sedentary life, akhirnya yang disebut dengan obesitas atau overweight. Ujung-ujungnya hipertensi, diabetes, dan lain sebagainya," ujar Bernie di Kantor Komdigi, dikutip Kamis, (8/10/2026).

​Dampak kedua menargetkan perkembangan anak usia dini. Kurangnya interaksi langsung membuat proses belajar bicara dan bersosialisasi anak terhambat.  

​"Yang kedua, perkembangan. Andaikata kita berikan pada usia dini, di mana seharusnya dia belajar tentang keluarganya, belajar bagaimana dia berbicara, itu habis waktunya pada screen time yang hanya satu arah. Jadi kadang-kadang pada anak-anak yang terlalu banyak screen time, seringkali terjadi masalah dalam perkembangan, baik itu perkembangan bahasa, sosial-emosional, dan lain sebagainya," tegas Bernie.  

​Bahaya ketiga adalah risiko adiksi atau kecanduan akibat pelepasan hormon dopamin yang berulang saat anak menggunakan gawai. Ia menerangkan kondisi ini membuat anak sangat sulit melepaskan diri dari layar gawai.

​"Karena screen time atau apapun itu yang selalu dilakukan berulang-ulang dan sifatnya seperti menyenangkan ya, akhirnya ini yang disebut dengan dopamin, neurotransmitter dopaminnya ini yang keluar dan ini menyebabkan adiksi," ungkapnya.  

​Sementara dampak keempat dan kelima menyasar anak usia sekolah hingga remaja, yaitu maraknya perundungan siber (cyberbullying) yang berujung pada masalah kesehatan mental.  

​"Yang keempat yang kita takutkan juga pada anak-anak usia sekolah, kemudian usia remaja, adalah cyberbullying. Kemudian yang terakhir, adanya cyberbullying ini ujung-ujungnya juga adalah mental health. Jadi kesehatan mental anak juga bisa terganggu," pungkasnya.

(Agustina Wulandari )

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya