"Yang kedua, perkembangan. Andaikata kita berikan pada usia dini, di mana seharusnya dia belajar tentang keluarganya, belajar bagaimana dia berbicara, itu habis waktunya pada screen time yang hanya satu arah. Jadi kadang-kadang pada anak-anak yang terlalu banyak screen time, seringkali terjadi masalah dalam perkembangan, baik itu perkembangan bahasa, sosial-emosional, dan lain sebagainya," tegas Bernie.
Bahaya ketiga adalah risiko adiksi atau kecanduan akibat pelepasan hormon dopamin yang berulang saat anak menggunakan gawai. Ia menerangkan kondisi ini membuat anak sangat sulit melepaskan diri dari layar gawai.
"Karena screen time atau apapun itu yang selalu dilakukan berulang-ulang dan sifatnya seperti menyenangkan ya, akhirnya ini yang disebut dengan dopamin, neurotransmitter dopaminnya ini yang keluar dan ini menyebabkan adiksi," ungkapnya.
Sementara dampak keempat dan kelima menyasar anak usia sekolah hingga remaja, yaitu maraknya perundungan siber (cyberbullying) yang berujung pada masalah kesehatan mental.
"Yang keempat yang kita takutkan juga pada anak-anak usia sekolah, kemudian usia remaja, adalah cyberbullying. Kemudian yang terakhir, adanya cyberbullying ini ujung-ujungnya juga adalah mental health. Jadi kesehatan mental anak juga bisa terganggu," pungkasnya.
(Agustina Wulandari )