JAKARTA - Buang air besar (BAB) jadi rutinitas alami tubuh yang penting untuk membuang sisa makanan dan menjaga kesehatan pencernaan. Namun, tahukah kamu bahwa ada waktu tertentu yang dianggap lebih ideal untuk BAB?
Menurut ahli gastroenterologi, pagi hari, terutama setelah bangun tidur, cenderung menjadi waktu yang paling baik bagi sebagian besar orang untuk BAB. Meski begitu, tak ada aturan yang mengharuskan setiap orang BAB pada jam yang sama.
Melansir Eating Well, hal yang lebih penting adalah memiliki pola BAB yang teratur dan tuntas. Setiap orang bisa memiliki kebiasaan yang berbeda, sehingga tak perlu memaksakan diri hanya karena belum BAB di pagi hari.
Ada beberapa alasan mengapa pagi hari dianggap sebagai waktu yang paling mendukung untuk buang air besar.
Tubuh memiliki ritme sirkadian, yaitu jam biologis yang mengatur berbagai fungsi tubuh, termasuk sistem pencernaan.
Menurut gastroenterolog Will Bulsiewicz, ritme tubuh yang teratur menjaga pergerakan usus tetap baik. Sementara itu, gastroenterolog Kenneth Brown menjelaskan bahwa usus besar cenderung lebih aktif pada siang hari dan aktivitasnya mencapai puncak pada pagi hari.
Kadar kortisol alami yang meningkat pada pagi hari juga dapat membantu merangsang aktivitas usus.
Ketika tidur, sistem pencernaan relatif lebih tidak aktif. Kondisi ini memungkinkan usus besar mengumpulkan sisa pencernaan selama malam.
Begitu bangun tidur, aktivitas sistem pencernaan kembali meningkat. Karena itu, pagi hari menjadi waktu yang cukup alami bagi tubuh untuk mengeluarkan tinja yang sudah terkumpul.
Alasan lainnya adalah adanya refleks gastrocolic, yaitu respons alami tubuh setelah makan atau minum.
Saat lambung terisi, tubuh dapat memberikan sinyal kepada usus besar untuk berkontraksi dan mendorong isinya ke depan. Refleks ini biasanya cukup kuat pada pagi hari, terutama setelah minum air dan sarapan.
Itulah sebabnya, sebagian orang bisa merasa ingin BAB tak lama setelah sarapan.
Meski pagi hari dianggap sebagai waktu yang ideal, bukan berarti setiap orang harus BAB setiap pagi.
Pola BAB yang normal cukup beragam. EatingWell mencatat bahwa frekuensi BAB yang masih dapat dianggap normal berkisar dua kali sehari hingga tiga kali seminggu.
Jadi, yang lebih penting bukan sekadar seberapa sering kamu BAB, tetapi apakah buang air besar berlangsung teratur, nyaman, dan tuntas. Bahkan, seseorang bisa BAB setiap hari tetapi masih mengalami sembelit jika tinja tidak keluar dengan tuntas.
Selain waktu dalam sehari, ada beberapa faktor yang dapat memengaruhi seberapa sering dan kapan seseorang BAB seperti yang telah dilansir dari Eating Well.
Asupan makanan, terutama makanan tinggi serat, dapat merangsang aktivitas usus. Serat juga membantu menambah volume tinja sehingga lebih mudah dikeluarkan.
Sebaliknya, kurang mengonsumsi serat dapat meningkatkan risiko sembelit. Asupan cairan juga penting karena dehidrasi dapat membuat usus menyerap lebih banyak air dari tinja sehingga teksturnya menjadi lebih keras.
Tubuh yang aktif biasanya membuat usus ikut bergerak. Olahraga dapat membantu merangsang motilitas usus, sedangkan terlalu banyak duduk dan kurang bergerak dapat memperlambatnya.
Jalan kaki, bersepeda, berenang, menari, atau aktivitas fisik lainnya bisa menjadi pilihan untuk membantu menjaga keteraturan BAB.
Jangan heran jika pola BAB berubah ketika sedang stres. Stres dan kecemasan dapat memengaruhi hubungan antara otak dan sistem pencernaan atau gut-brain axis.
Pada sebagian orang, stres dapat mempercepat gerakan usus hingga menyebabkan diare. Namun, pada orang lain, stres justru dapat memperlambat gerakan usus dan menyebabkan sembelit.
Perjalanan juga dapat membuat jadwal BAB berantakan. Perubahan zona waktu, pola makan, asupan air, tingkat stres, hingga berkurangnya aktivitas fisik selama perjalanan dapat memengaruhi ritme pencernaan.
(Agustina Wulandari )