Pekan ASI Sedunia 2026: Makna, Tema, dan Pentingnya Dukungan Menyusui bagi Ibu dan Bayi

Kurniasih Miftakhul Jannah, Jurnalis
Senin 03 Agustus 2026 15:10 WIB
Pekan ASI Sedunia 2026: Makna, Tema, dan Pentingnya Dukungan Menyusui bagi Ibu dan Bayi (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA – Setiap tanggal 1–7 Agustus, dunia memperingati Pekan ASI Sedunia (World Breastfeeding Week/WBW) sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya pemberian air susu ibu (ASI) bagi tumbuh kembang anak. Peringatan ini juga menjadi ajakan bagi pemerintah, tenaga kesehatan, keluarga, hingga tempat kerja untuk menciptakan lingkungan yang mendukung ibu menyusui.

Pekan ASI Sedunia pertama kali diinisiasi oleh World Alliance for Breastfeeding Action (WABA) pada 1991 di kantor UNICEF, New York. Sejak saat itu, kampanye tahunan ini menjadi gerakan global yang mendorong pemenuhan hak bayi untuk mendapatkan ASI, termasuk pemberian ASI eksklusif selama enam bulan pertama dan dilanjutkan hingga usia dua tahun atau lebih dengan makanan pendamping ASI (MPASI).

Pada 2026, tema yang diusung adalah "Breastfeeding for a Sustainable Start in Life: Strengthen What Works." Tema ini menekankan pentingnya mengevaluasi berbagai program yang telah berjalan, memperluas praktik yang terbukti efektif, serta memperkuat Warm Chain of Support, yakni sistem dukungan menyusui yang melibatkan keluarga, tenaga kesehatan, komunitas, tempat kerja, hingga pemerintah.

ASI, Nutrisi Terbaik untuk Bayi

ASI mengandung berbagai zat gizi penting yang dibutuhkan bayi, seperti DHA, AA, omega-6, protein, vitamin A, zat besi, laktoferin, lisozim, hingga kolostrum. Seluruh kandungan tersebut tersedia dalam komposisi yang telah disesuaikan secara alami dengan kebutuhan bayi sehingga berperan penting dalam mendukung pertumbuhan, perkembangan otak, dan pembentukan sistem kekebalan tubuh.

Selain kaya nutrisi, ASI juga lebih higienis karena diberikan langsung dari ibu tanpa melalui proses pengolahan maupun penggunaan botol. Menariknya, komposisi ASI akan berubah secara alami mengikuti usia dan kebutuhan bayi, sehingga manfaatnya terus menyesuaikan setiap tahap perkembangan.

Manfaat Menyusui bagi Ibu

Tak hanya menguntungkan bayi, menyusui juga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara, kanker ovarium, serta diabetes melitus tipe 2. Aktivitas menyusui juga mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak yang berpengaruh positif terhadap perkembangan psikologis keduanya.

Capaian Indonesia Melampaui Target Global

Indonesia mencatat kemajuan dalam praktik pemberian ASI eksklusif. Data menunjukkan cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0–5 bulan meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Angka tersebut telah melampaui target World Health Assembly yang menetapkan minimal 60 persen pada 2030.

Peningkatan ini didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader masyarakat, serta integrasi layanan menyusui ke dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.

Meski demikian, masih terdapat tantangan. Banyak anak di Indonesia berhenti mendapatkan ASI sebelum mencapai usia dua tahun, padahal WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI hingga usia tersebut dengan didampingi MPASI sejak bayi berusia enam bulan.

Dukungan Menyeluruh Sangat Dibutuhkan

Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh awal kehidupan terbaik melalui praktik menyusui.

Menurutnya, keberhasilan menyusui tidak hanya bergantung pada ibu, tetapi juga membutuhkan dukungan keluarga, tenaga kesehatan, pemberi kerja, komunitas, dan pemerintah agar ibu memperoleh informasi, perlindungan, serta pendampingan yang memadai.

Hal senada disampaikan N. Paranietharan. Ia menilai tidak seharusnya seorang ibu menjalani proses menyusui sendirian. Setiap ibu berhak memperoleh layanan kesehatan yang berkualitas, informasi yang benar, serta perlindungan dari pemasaran produk pengganti ASI yang tidak sesuai aturan.

Menyusui Selamatkan Nyawa dan Berdampak pada Ekonomi

WHO dan UNICEF menyebut menyusui sebagai salah satu intervensi kesehatan paling efektif untuk menyelamatkan nyawa anak. Bayi yang tidak memperoleh ASI memiliki risiko meninggal sebelum usia satu tahun hingga 14 kali lebih tinggi dibandingkan bayi yang mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan pertama.

Di Indonesia, praktik menyusui yang optimal diperkirakan mampu mencegah lebih dari 8.000 kematian anak dan sekitar 4.200 kematian ibu setiap tahun. Selain itu, peningkatan praktik menyusui juga berpotensi menghemat biaya pelayanan kesehatan, mengurangi pengeluaran keluarga untuk susu formula, serta menghasilkan manfaat ekonomi bernilai miliaran dolar setiap tahunnya.

Regulasi Terus Diperkuat

Pemerintah Indonesia juga telah memperkuat perlindungan terhadap praktik menyusui melalui berbagai regulasi, di antaranya Undang-Undang Nomor 17 Tahun 2023 tentang Kesehatan, Peraturan Pemerintah Nomor 28 Tahun 2024, serta Undang-Undang Nomor 4 Tahun 2024 tentang Kesejahteraan Ibu dan Anak pada Fase Seribu Hari Pertama Kehidupan.

Regulasi tersebut mempertegas perlindungan terhadap ibu menyusui sekaligus membatasi promosi produk pengganti ASI yang tidak sesuai dengan International Code of Marketing of Breast-milk Substitutes.

Melalui Pekan ASI Sedunia 2026, WHO dan UNICEF mengajak seluruh elemen masyarakat memperkuat dukungan terhadap ibu menyusui, mulai dari layanan kesehatan, Posyandu, kelompok pendukung ibu, hingga kebijakan ramah keluarga di tempat kerja.

Keberhasilan menyusui dinilai bukan hanya tanggung jawab seorang ibu, melainkan hasil kolaborasi seluruh pihak untuk memastikan setiap anak memperoleh awal kehidupan yang sehat dan kesempatan tumbuh secara optimal.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya