Tak hanya menguntungkan bayi, menyusui juga memberikan manfaat kesehatan bagi ibu. Berbagai penelitian menunjukkan bahwa menyusui dapat membantu menurunkan risiko kanker payudara, kanker ovarium, serta diabetes melitus tipe 2. Aktivitas menyusui juga mempererat ikatan emosional antara ibu dan anak yang berpengaruh positif terhadap perkembangan psikologis keduanya.
Indonesia mencatat kemajuan dalam praktik pemberian ASI eksklusif. Data menunjukkan cakupan ASI eksklusif pada bayi usia 0–5 bulan meningkat dari 52 persen pada 2017 menjadi 66,4 persen pada 2024. Angka tersebut telah melampaui target World Health Assembly yang menetapkan minimal 60 persen pada 2030.
Peningkatan ini didukung oleh berbagai kebijakan pemerintah, peningkatan kapasitas tenaga kesehatan dan kader masyarakat, serta integrasi layanan menyusui ke dalam pelayanan kesehatan ibu dan anak.
Meski demikian, masih terdapat tantangan. Banyak anak di Indonesia berhenti mendapatkan ASI sebelum mencapai usia dua tahun, padahal WHO dan UNICEF merekomendasikan pemberian ASI hingga usia tersebut dengan didampingi MPASI sejak bayi berusia enam bulan.
Perwakilan UNICEF Indonesia, Maniza Zaman, menegaskan bahwa setiap anak berhak memperoleh awal kehidupan terbaik melalui praktik menyusui.