Hati-Hati Minum Jamu hingga Obat Anti Nyeri, Ini Efeknya ke Ginjal

Niko Prayoga , Jurnalis
Senin 03 Agustus 2026 08:11 WIB
Hati-Hati Minum Jamu hingga Obat Anti Nyeri, Ini Efeknya ke Ginjal (Foto: Freepik)
Share :

JAKARTA – Banyak orang menganggap jamu, obat pereda nyeri, hingga suplemen vitamin aman dikonsumsi karena mudah diperoleh dan sudah menjadi bagian dari kebiasaan sehari-hari. Namun, dokter mengingatkan bahwa penggunaan obat maupun produk herbal secara sembarangan dapat meningkatkan risiko kerusakan ginjal, terutama jika dikonsumsi dalam dosis tinggi atau tanpa pengawasan medis.

Di Indonesia, konsumsi jamu tradisional dan obat-obatan bebas memang telah lama menjadi bagian dari gaya hidup masyarakat. Produk-produk tersebut sering digunakan untuk meredakan pegal linu, mengatasi nyeri, hingga menjaga daya tahan tubuh.

Meski demikian, Dokter Spesialis Penyakit Dalam, dr. Hamidah, mengingatkan bahwa penggunaan obat, herbal, maupun jamu tanpa memperhatikan dosis dan anjuran tenaga medis dapat membahayakan fungsi ginjal. Hal itu disampaikannya dalam podcast bersama Dokter Spesialis Andrologi sekaligus edukator kesehatan, dr. Jefry Tribowo, yang diunggah di kanal YouTube miliknya.

"Kebiasaan nomor empat mungkin dari obat, herbal, atau mungkin jamu-jamuan. Kalau dikonsumsi secara sembarangan tanpa anjuran dokter, tanpa pengawasan dokter," kata dr. Hamidah.

Fungsi Ginjal

Ia menjelaskan bahwa ginjal berfungsi menyaring darah sekaligus membuang sisa metabolisme dan zat-zat yang tidak diperlukan tubuh melalui urine. Jika suatu zat dikonsumsi secara berlebihan atau tidak sesuai kondisi kesehatan seseorang, beban kerja ginjal akan meningkat sehingga berisiko menimbulkan peradangan maupun penurunan fungsi organ tersebut.

Menurut dr. Hamidah, beberapa jenis obat yang cukup sering dikonsumsi masyarakat tanpa resep memiliki potensi merusak ginjal apabila digunakan dalam jangka panjang atau dengan dosis tinggi. Di antaranya obat pereda nyeri, obat lambung, beberapa jenis antibiotik, serta obat untuk penyakit jantung dan pembuluh darah.

"Jadi ada beberapa obat yang kalau misalnya dikonsumsi berlebihan, dosisnya tinggi, terus-menerus tanpa pengawasan, itu bisa merusak ginjal. Tapi enggak semua kondisi langsung merusak ginjal. Misalnya obat golongan anti nyeri, obat lambung, beberapa jenis antibiotik, atau obat-obatan jantung dan pembuluh darah," jelasnya.

Selain itu, ia juga mengingatkan bahaya interaksi obat (drug interaction) yang kerap terjadi ketika seseorang mengonsumsi beberapa jenis obat secara bersamaan tanpa petunjuk dokter.

"Atau mungkin obat tersebut sebenarnya aman, tetapi karena dikombinasikan dengan obat lain, itu dapat meningkatkan toksisitas pada ginjal," tambah dr. Hamidah.

Ia menjelaskan bahwa kerusakan ginjal akibat obat dapat terjadi melalui berbagai mekanisme, mulai dari kerusakan langsung pada jaringan ginjal hingga penurunan aliran darah menuju organ tersebut.

Meski demikian, dr. Hamidah menegaskan bahwa masyarakat tidak perlu takut mengonsumsi obat yang diresepkan dokter. Pada penderita penyakit kronis, seperti diabetes dan asam urat, obat tetap perlu dikonsumsi sesuai dosis yang telah disesuaikan dengan kondisi fungsi ginjal.

"Banyak kok obat-obatan yang ternyata aman buat ginjal. Ada juga obat yang perlu perhatian kalau fungsi ginjalnya menurun atau kreatinin darah meningkat. Itu sudah ada panduan dosisnya. Misalnya obat asam urat, sebenarnya aman, tetapi dosisnya harus disesuaikan dengan kadar kreatinin pasien," paparnya.

Hal yang sama juga berlaku pada pengobatan diabetes. Dokter akan menentukan jenis dan dosis obat berdasarkan kondisi ginjal masing-masing pasien.

Di sisi lain, dr. Hamidah menyoroti anggapan bahwa produk herbal, jamu, dan suplemen vitamin selalu aman hanya karena berasal dari bahan alami. Menurutnya, anggapan tersebut merupakan miskonsepsi yang perlu diluruskan.

"Sama mungkin yang sering jadi miskonsepsi itu tentang jamu dan vitamin. Jamu juga herbal dan tetap diproses oleh tubuh, kemudian dikeluarkan lewat urine. Kalau herbal-herbal yang enggak jelas kandungannya atau dikonsumsi berlebihan, kita harus waspada karena ginjal bertugas mengeluarkan zat-zat tersebut," jelasnya.

Ia menambahkan, penggunaan racikan herbal yang tidak diketahui kandungan maupun dosisnya, termasuk konsumsi vitamin dalam dosis sangat tinggi, dapat meningkatkan risiko nefrotoksisitas atau keracunan ginjal.

Sebagai contoh, ia menyinggung kasus konsumsi vitamin D hingga 50.000 IU per hari tanpa indikasi medis yang dapat membahayakan kesehatan ginjal.

"Sama halnya dengan vitamin. Kemarin sempat ada berita konsumsi vitamin D bisa bikin sakit ginjal, ternyata setelah dicek dosisnya 50.000 IU sehari. Itu jauh di atas kebutuhan normal. Jadi vitamin sebenarnya aman, tetapi tetap harus memperhatikan dosisnya. Apa pun kalau berlebihan tentu tidak baik," pungkasnya.

(Kurniasih Miftakhul Jannah)

Halaman:
Lihat Semua
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya