SAAT ini industri fashion tidak hanya dituntut kreatif, tapi juga memperhatikan lingkungan. Oleh karena itu, konsep sustainability fashion terus digaungkan sehingga iindustri fashion bukan hanya memperhatikan lingkungan tapi juga kesejahteraan pengrajinnya.
Meski ready-to-wear, 3 jenama lokal yang tampil di Jakarta Fashion Week 2023 yakni RTW, Calla the Label, dan MARYALLÉ berkomitmen untuk mengarah ke sustainability fashion, tentunya dengan cara mereka masing-masing.
Seperti apa konsep sustainability fashion ala ketiga jenama lokal ini? Berikut paparan mereka pada MNC Portal, Senin (24/10/2022):
RTW
Diffusion line of Rinda Salmun ini memang fokus pada koleksi ready-to-wear yang menonjolkan pattern dan motif yang mencolok. Tapi, siapa sangka kalau Rinda Salmun Two Wear (RTW) juga mulai menerapkan keberlanjutan fashion dengan cara mereka sendiri.
"Jadi, pada proses desain, kami melakukan yang namanya pattern placement pada bahan jadi. Teknik ini mampu meminimalisir limbah kain," terang Desainer RTW, Rinda Salmun, di JFW 2023, Jakarta.
Sekalipun ada limbah kain yang tersisa, terang Rinda, limbah tersebut diolah kembali menjadi produk fashion. "Ini yang menginspirasi dia untuk membuat koleksi yang akan dipamerkan di JFW 2023 pada 26 Oktober yang mana koleksi itu terbuat dari 90% limbah bahan," tambahnya.
"Kami concern pada sustainability fashion, karena itu kami coba meminimalisir limbah kain dan mempercepat proses pembuatannya juga, therefore meminimalisir pemakaian energi dan meminimalisir energi manusianya," ungkap Rinda Salmun.
Calla the Label
Founder Calla the Label Yeti Afriyani mengatakan bahwa sudah hampir 4 tahun jenamanya bekerja sama dengan Tencel Indonesia untuk membuat material dari serat alami. Ini bentuk tanggung jawabnya atas keberlanjutan.
"Salah satu bukti bahwa koleksi Calla the Label itu ramah lingkungan adalah, Anda bisa potong baju kami, lalu tanam di dalam tanah selama 90 hari. Kemudian digali dan Anda akan lihat kainnya sudah terurai," papar Yeti.
Tak hanya menggunakan serat alami, Calla the Label juga sudah mulai memakai material zero carbon. Ini sebagai bentuk nyata lainnya bahwa jenama tersebut bukan sekadar bikin koleksi printing, lalu jual, tapi tetap mempertimbangkan keberlanjutan.
"Kami lewat Calla the Label juga punya misi yaitu mengedukasi masyarakat bahwa pakai baju keren enggak harus mahal, tapi tetap punya responsibility terhadap lingkungan," kata Yeti.
MARYALLÉ
Desainer MARYALLÉ, Michelle Maryam, pun memastikan jenamanya menerapkan sustainability fashion, tentu dengan caranya sendiri.
"Kami menerapkan konsep satu fabric bisa dipakai untuk pembuatan beberapa artikel, misal bahan celana jeans ada yang kelebihan, kami olah fabric sisa tersebut untuk membuat top misalnya," katanya.
"Kami juga memutuskan untuk memilih fabric yang high quality, sehingga satu piece itu bisa last forever," tambah Michelle.
(Martin Bagya Kertiyasa)