
Hal yang sering luput diperhatikan adalah anggapan bahwa pemanis yang dianggap lebih sehat boleh dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak. Padahal, mengganti jenis gula tidak serta-merta menghilangkan risiko jika konsumsinya tetap berlebihan.
Gula pasir juga tidak otomatis menjadi sesuatu yang harus dianggap sepenuhnya buruk. Konsumsi gula perlu dilihat berdasarkan jumlah, pola makan secara keseluruhan, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Bagi penderita diabetes, pengaturan konsumsi gula dan karbohidrat perlu dilakukan lebih cermat karena makanan dan minuman tertentu dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Bukan berarti seluruh jenis gula harus dihindari sepenuhnya, tetapi jumlah konsumsinya perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
Pada akhirnya, memilih pemanis alternatif bukan sekadar soal mencari pengganti gula pasir. Memahami kandungan produk, memperhatikan ukuran porsi, dan membatasi konsumsi gula tambahan tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
“Ada banyak pertanyaan, seperti ‘Kayaknya gula aren lebih baik ya atau gula jawa’, atau ‘Kita misalkan pakai stevia aja’, atau ‘Kita balik ke bubuk-bubuk itu aja yang katanya bagus untuk penderita diabetes yang berbagai macam merek’,” ujar dr. Amadea.
“Pada akhirnya itu balik ke berapa banyak yang kita makan. Jadi, kadang-kadang orang menganggap, ‘Ah ini kan lebih baik.’ Tapi kita kembali lagi ke porsinya emang seberapa. Bukan artinya ini baik lalu kita bisa konsumsi dengan batas yang maksimal,” lanjutnya.
“Apakah artinya gula pasir jahat juga enggak. Sebenarnya kalau untuk orang-orang diabetes soal lonjakan gula tentu kita harusnya lebih mindful. Oh berarti kita memang tidak bisa banyak-banyak konsumsinya bukan berarti gak boleh,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.