MENGURANGI konsumsi gula menjadi salah satu langkah yang banyak dilakukan masyarakat untuk menjaga kesehatan. Utamanya bagi mereka yang memiliki diabetes atau ingin mengontrol kadar gula darah.
Tak sedikit orang kemudian beralih ke pemanis alternatif, seperti gula aren, gula jawa, stevia, hingga berbagai produk pemanis khusus yang diklaim lebih ramah bagi penderita diabetes. Namun, apakah semua alternatif tersebut benar-benar lebih sehat dibandingkan gula pasir?
Menurut dr. Amadea Hasian, Sp.GK yang merupakan Dokter Spesialis Gizi Klinik dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone, satu hal penting yang perlu diperhatikan, yakni jenis pemanis bukan satu-satunya faktor penentu dampaknya terhadap kesehatan. Jumlah atau porsi yang dikonsumsi juga memiliki peran besar.
Gula aren dan gula jawa kerap dianggap sebagai pilihan yang lebih sehat dibandingkan gula pasir karena berasal dari bahan alami. Meski memiliki karakteristik rasa dan kandungan zat gizi yang berbeda, keduanya tetap mengandung gula dan dapat meningkatkan kadar glukosa darah.
Artinya, mengganti gula pasir dengan gula aren atau gula jawa bukan berarti seseorang bisa mengonsumsinya tanpa batas. Hal serupa juga berlaku untuk madu dan pemanis alami lainnya. Label alami tidak otomatis membuat suatu pemanis bebas dari dampak terhadap kadar gula darah.
Stevia menjadi salah satu alternatif yang banyak dipilih. Pasalnya, stevia mengandung pemanis dari tanaman stevia dan memiliki sedikit atau bahkan tanpa kalori, tergantung formulasi produknya.
Berbeda dengan gula pasir, stevia murni tidak memberikan tambahan karbohidrat dalam jumlah berarti. Dengan begitu, stevia umumnya memiliki pengaruh minimal terhadap kadar glukosa darah.
Meski demikian, konsumen tetap perlu memperhatikan komposisi produk. Beberapa pemanis yang dijual dengan label stevia merupakan campuran dengan bahan lain, seperti dekstrosa atau maltodekstrin. Karena itu, penting untuk membaca label kemasan sebelum memilih produk pemanis alternatif.

Hal yang sering luput diperhatikan adalah anggapan bahwa pemanis yang dianggap lebih sehat boleh dikonsumsi dalam jumlah lebih banyak. Padahal, mengganti jenis gula tidak serta-merta menghilangkan risiko jika konsumsinya tetap berlebihan.
Gula pasir juga tidak otomatis menjadi sesuatu yang harus dianggap sepenuhnya buruk. Konsumsi gula perlu dilihat berdasarkan jumlah, pola makan secara keseluruhan, serta kondisi kesehatan masing-masing individu.
Bagi penderita diabetes, pengaturan konsumsi gula dan karbohidrat perlu dilakukan lebih cermat karena makanan dan minuman tertentu dapat memengaruhi kadar glukosa darah. Bukan berarti seluruh jenis gula harus dihindari sepenuhnya, tetapi jumlah konsumsinya perlu diperhatikan dan disesuaikan dengan kebutuhan tubuh.
Pada akhirnya, memilih pemanis alternatif bukan sekadar soal mencari pengganti gula pasir. Memahami kandungan produk, memperhatikan ukuran porsi, dan membatasi konsumsi gula tambahan tetap menjadi langkah penting untuk menjaga kesehatan.
“Ada banyak pertanyaan, seperti ‘Kayaknya gula aren lebih baik ya atau gula jawa’, atau ‘Kita misalkan pakai stevia aja’, atau ‘Kita balik ke bubuk-bubuk itu aja yang katanya bagus untuk penderita diabetes yang berbagai macam merek’,” ujar dr. Amadea.
“Pada akhirnya itu balik ke berapa banyak yang kita makan. Jadi, kadang-kadang orang menganggap, ‘Ah ini kan lebih baik.’ Tapi kita kembali lagi ke porsinya emang seberapa. Bukan artinya ini baik lalu kita bisa konsumsi dengan batas yang maksimal,” lanjutnya.
“Apakah artinya gula pasir jahat juga enggak. Sebenarnya kalau untuk orang-orang diabetes soal lonjakan gula tentu kita harusnya lebih mindful. Oh berarti kita memang tidak bisa banyak-banyak konsumsinya bukan berarti gak boleh,” tutupnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.