JAKARTA - Ajang Miss Indonesia memasuki penyelenggaraan ke-20 pada 2026. Sebanyak 38 finalis dari berbagai provinsi di Indonesia bersiap memperebutkan mahkota Miss Indonesia 2026 setelah menjalani rangkaian pembekalan selama karantina.
Founder & Chairwoman Miss Indonesia Organization sekaligus Executive Chairwoman MNC Group, Liliana Tanoesoedibjo, menegaskan bahwa Miss Indonesia bukan sekadar ajang kecantikan. Para finalis juga dinilai berdasarkan wawasan, karakter, integritas, hingga kepedulian mereka terhadap sesama.
Hal itu disampaikan Liliana dalam Konferensi Pers 38 Finalis 20th Miss Indonesia 2026, Selasa (13/10/2026). Menurut Liliana, para finalis telah mendapatkan berbagai pembekalan selama masa karantina.
Mereka tidak hanya berlatih berjalan di atas panggung atau catwalk, tetapi juga belajar menjadi pribadi yang mandiri, memiliki integritas, serta mampu menjunjung tinggi nilai moral dan budaya Indonesia.
“Karena di sini Miss Indonesia akan dinilai berdasarkan MISS, ya: Manners, Impressive, Smart, and Social,” ujar Liliana.
Konsep MISS menjadi salah satu landasan penilaian dalam ajang tersebut. Melalui aspek Manners, para finalis diharapkan mampu menjaga perilaku, menjunjung nilai moral, serta menghormati budaya dan martabat perempuan Indonesia.
Sementara itu, aspek Impressive dan Smart berkaitan dengan wawasan serta kemampuan para finalis untuk terus mengembangkan diri. Liliana menekankan bahwa proses belajar tidak berhenti ketika seseorang mencapai usia tertentu atau meraih sebuah pencapaian.
“Jadi menurut saya, pembelajaran itu terus-menerus di dalam kehidupan kita. Kita tidak pernah berhenti belajar, karena ilmu itu terus bertambah, dan teknologi itu terus bertambah,” tuturnya.
Di antara berbagai aspek penilaian, Liliana Tanoesoedibjo juga memberikan perhatian khusus pada kepedulian sosial. Menurutnya, seorang Miss Indonesia harus memiliki tujuan yang lebih besar daripada sekadar memenangkan kompetisi kecantikan.
Ia mengaitkan nilai tersebut dengan konsep Beauty with a Purpose, yakni kecantikan yang disertai tujuan dan kontribusi nyata bagi masyarakat.
“Nah, selain itu juga kalian juga dibekali dengan kepedulian sosial. Itu yang paling penting di Miss Indonesia, karena nilai kepedulian itu sangat relate dengan Beauty with a Purpose,” jelasnya.
Melalui konsep tersebut, para finalis diharapkan mampu menggunakan kesempatan dan pengaruh yang mereka miliki untuk memberikan manfaat bagi orang lain. Gelar Miss Indonesia nantinya bukan hanya menjadi pengakuan atas penampilan atau kemampuan personal, melainkan juga tanggung jawab untuk membawa dampak positif.
Para finalis juga disebut mengikuti tujuh fast track atau jalur penilaian khusus, antara lain Art and Photography, Beauty with a Purpose, Head-to-Head Challenge, Top Model, Talent, serta penilaian melalui media sosial.
Memasuki usia ke-20, Liliana menyebut perjalanan Miss Indonesia sebagai proses panjang yang membutuhkan komitmen berkelanjutan. Selama dua dekade, ajang tersebut berupaya menjadi wadah pemberdayaan perempuan Indonesia dengan menggali potensi, kecerdasan, wawasan, dan karakter mereka.
Menurutnya, konsistensi terhadap nilai-nilai tersebut menjadi hal penting agar Miss Indonesia tidak hanya menghasilkan pemenang kompetisi, tetapi juga perempuan yang dapat memberikan kontribusi bagi masyarakat.
Ia pun mengingatkan para finalis agar tidak berkecil hati jika nantinya belum berhasil membawa pulang mahkota. Sebab, menurut Liliana, makna kemenangan tidak hanya ditentukan oleh hasil di atas panggung.
“Segala sesuatu, kita tahu bahwa pemenang itu hanya satu, tapi jangan berkecil hati karena mahkota yang sesungguhnya itu bukan hanya di panggung, tapi mahkota yang sesungguhnya itu bagaimana kita mau berbagi kepada sesama kita dan menjadi bermakna di dalam kehidupan kita,” ujarnya.
(Agustina Wulandari )
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.