Menariknya, sesampainya di dokter anak, diagnosis dan resep obat yang diberikan biasanya persis seperti perkiraan Gina. Hal ini tak jarang membuat sang suami berseloroh karena harus mengeluarkan biaya konsultasi ekstra.
"Entar sampai dokter anak, didiagnosis atau obatnya kurang lebih sama. Makanya dia suka kurang ikhlas kalau ngeluarin kartu, 'Kan, aku bilang juga apa'. Kalau enggak kan gratis, gitu dia tuh," kata Gina sambil tertawa.
Saat ditanya apakah keraguan tersebut merupakan bagian dari kode etik kedokteran, Gina menjelaskan bahwa hal itu lebih kepada naluri kemanusiaan dan ikatan emosional seorang ibu maupun istri.
"Kayaknya emang naluri aja sih. Kalau salah, entar rasa merasa bersalahnya kan takutnya seumur hidup," ungkapnya.
Guna memperkuat alasannya, Gina menceritakan pengalaman seorang rekan sejawatnya yang merupakan dokter spesialis ortopedi. Meski terbiasa melakukan bedah tulang setiap hari, dokter tersebut tak sanggup ketika harus mengoperasi anaknya sendiri yang mengalami patah tulang saat kegiatan field trip.