Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Anak Demam Tinggi karena Influenza A, Kompres Hangat atau Dingin?

Djanti Virantika , Jurnalis-Minggu, 20 September 2026 |08:05 WIB
Anak Demam Tinggi karena Influenza A, Kompres Hangat atau Dingin?
Anak demam. (Foto: Freepik)
A
A
A

INFLUENZA A dapat menyebabkan berbagai gejala pada anak, salah satunya demam. Ketika suhu tubuh anak meningkat, orangtua biasanya berusaha mencari cara untuk membuatnya lebih nyaman.

Salah satu cara yang kerap dilakukan adalah memberikan kompres. Namun, muncul pertanyaan: ketika anak demam tinggi akibat Influenza A, sebaiknya menggunakan kompres hangat atau dingin?

1. Jangan Sampai Dehidrasi

Dokter Spesialis Anak dari Siloam Hospitals TB Simatupang, dr. Yogi Prawira, Sp.A, Subsp.ETIA(K), dalam acara Morning Zone di Youtube Okezone menjelaskan, selain memperhatikan suhu tubuh, hal yang tidak kalah penting adalah memastikan anak mendapatkan cairan yang cukup. Demam dapat meningkatkan kebutuhan cairan tubuh, sementara kekurangan cairan bisa menyebabkan dehidrasi.

“Kalau suhu tinggi, prinsip pertama tentu cairan harus cukup. Karena kalau cairan tidak cukup, maka dehidrasi bisa membuat suhunya tidak turun-turun,” ujar dr. Yogi.

2. Kompres Hangat atau Dingin?

Selama ini, sebagian orangtua mungkin terbiasa menggunakan kompres dingin atau bahkan es ketika anak mengalami demam. Namun, dr. Yogi menjelaskan bahwa penelitian yang membandingkan kompres dingin dan hangat pada anak demam menunjukkan kompres hangat lebih disarankan.

Kompres hangat bertujuan membantu pelebaran pembuluh darah atau vasodilatasi. Dengan pembuluh darah yang melebar, pelepasan panas dari tubuh dapat berlangsung lebih baik sehingga anak diharapkan merasa lebih nyaman.

Kompres hangat dapat diberikan terutama pada area yang memiliki pembuluh darah besar, seperti leher, ketiak, dan selangkangan. Meski demikian, kompres bukan bertujuan membuat suhu tubuh turun secara drastis. Penggunaannya lebih ditujukan untuk membantu memberikan kenyamanan ketika anak sedang mengalami demam.

“Nah kemudian kalau mau dikompres, kompresnya itu, kalau zaman dulu kan memakai kompres es ya, kompres dingin. Ternyata ada penelitian yang membandingkan keaktivitas dari kompres dingin dengan kompres hangat,” jelas dr. Yogi.

“Untuk anak yang demam, sarannya justru dengan kompres hangat. Tujuannya adalah membuat pemudaranya itu dilatasi atau melebar, sehingga kemudian panasnya bisa menguap,” lanjutnya.

“Dan kompres hangat itu diposisikannya itu terutama di bagian leher, di bagian ketiak, di bagian selangkangan,” jelasnya.

 

3. Jangan Gunakan Es atau Kompres Terlalu Dingin

Kompres es atau air yang sangat dingin masih menjadi salah satu cara tradisional yang dilakukan ketika seseorang demam. Namun, cara tersebut bukan pilihan yang dianjurkan.

Suhu yang terlalu dingin dapat membuat anak merasa tidak nyaman dan memicu menggigil. Karena itu, jika orangtua ingin menggunakan kompres, air hangat dengan suhu yang nyaman dapat menjadi pilihan.

Orangtua juga tidak perlu membungkus tubuh anak dengan terlalu banyak lapisan pakaian atau selimut hanya karena anak sedang demam. Yang terpenting adalah membuat anak tetap nyaman dan tidak kepanasan.

4. Hindari Kompres Menggunakan Alkohol

Ada satu kebiasaan lain yang perlu dihindari, yaitu menggunakan alkohol sebagai bahan kompres. Alkohol sangat mudah menguap. Jika uapnya terhirup oleh anak, terdapat risiko terjadinya keracunan.

Karena itu, alkohol tidak seharusnya digunakan untuk mengompres anak yang sedang demam. Termasuk, ketika demam berkaitan dengan Influenza A.

“Dulu ada juga yang bahkan menggunakan kompres alkohol, itu bahaya ya. Karena alkohol sangat mudah menguap,” ucap dr. Yogi.

“Dan kalau sampai dihirup oleh si anak, maka dia bisa keracunan,” tutupnya.

(Djanti Virantika)

Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.

      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement