
Lebih lanjut, dr. Rendra juga menjelaskan bahwa beberapa orang mungkin mampu mengonsumsi makanan dalam jumlah besar tanpa langsung merasakan gejala tertentu. Hal ini terjadi karena tubuh memiliki kemampuan adaptasi. Namun, bukan berarti konsumsi berlebihan tidak memiliki dampak.
Masalah utama bukan hanya pada satu kali makan, tetapi pada pola konsumsi yang berulang dan berlangsung dalam jangka panjang. Kebiasaan mengonsumsi daging secara berlebihan dapat meningkatkan risiko gangguan kesehatan tertentu, terutama jika tidak diimbangi dengan sayur, buah, dan asupan serat yang cukup.
Tubuh sebenarnya memiliki sinyal atau “alarm” ketika asupan makanan sudah berlebihan, meskipun tidak selalu muncul dalam bentuk gejala langsung. Karena itu, penting untuk tidak hanya fokus pada satu kali makan, tetapi juga memperhatikan kebiasaan makan sehari-hari.
Konsumsi berlebihan sesekali mungkin tidak langsung menimbulkan efek, tetapi jika menjadi kebiasaan, dampaknya dapat muncul dalam jangka panjang. Oleh karena itu, keseimbangan tetap menjadi kunci utama dalam menjaga kesehatan.
“Tubuh lama-lama adaptasi. Sebenarnya yang berbahaya kan pola dan kebiasaan,” tutur dr. Rendra.
“Kalau misal sesekali, tubuh akan berikan alarm atau rem, ‘Wah ini kebanyakan nih.’ Baiknya kita berhenti saat itu, jadi gejalanya enggak muncul. Meskipun kalaupun kebanyakan sekalipun, itu efek kesehatannya enggak langsung,” tukasnya.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.