Dr. Adam juga menyebut kondisi tersebut dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental anak. Anak berisiko mengalami gangguan kecemasan, kesulitan mengatur emosi, hingga masalah psikologis lainnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah akan mengalami kerusakan otak permanen. Menurutnya, otak anak sangat plastis dan masih dapat pulih jika mendapat lingkungan yang aman dan suportif.
“Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat,” tulisnya lagi.
Karena itu, dr. Adam menekankan pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang aman, nyaman, dan suportif demi mendukung perkembangan mental serta emosional anak di masa depan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.