JAKARTA - Lingkungan keluarga ternyata memiliki pengaruh besar terhadap perkembangan otak dan kesehatan mental anak. Anak yang tumbuh di tengah pertengkaran, kekerasan, atau pengabaian disebut dapat mengalami perubahan aktivitas otak yang membuat mereka terus berada dalam kondisi stres dan waspada.
Dokter sekaligus edukator kesehatan, Adam Prabata, kembali membagikan informasi kesehatan melalui media sosialnya. Kali ini, lewat akun X @AdamPrabata, ia membahas dampak lingkungan keluarga yang tidak stabil terhadap perkembangan otak anak.
Dalam unggahannya, dr. Adam menjelaskan bahwa anak-anak yang tumbuh di lingkungan penuh konflik, kekerasan, atau pengabaian dapat mengalami pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit setelah bertugas di medan perang.
“Anak-anak yang hidup di keluarga yang tidak stabil, seperti sering bertengkar, kasar, abusive, atau diabaikan, ternyata memiliki pola aktivitas otak yang mirip dengan prajurit tempur setelah bertugas di medan perang,” tulis Adam.
Temuan tersebut diketahui melalui penelitian yang memeriksa aktivitas otak anak menggunakan metode fMRI (functional Magnetic Resonance Imaging). Menurut dr. Adam, hasil penelitian menunjukkan adanya peningkatan aktivitas di dua area penting otak, yakni anterior insula dan amigdala.
Kedua bagian otak tersebut berperan dalam mendeteksi ancaman dan merespons stres. Akibatnya, anak berada dalam kondisi “siap siaga” terus-menerus karena terbiasa hidup di lingkungan yang penuh tekanan.
“Perubahan aktivitas ini bersifat adaptif di lingkungan penuh ancaman, seperti jadi ‘siap siaga’ terus-menerus, mirip dengan yang terjadi pada tentara setelah pengalaman tempur,” jelasnya.
Dr. Adam juga menyebut kondisi tersebut dapat berdampak jangka panjang terhadap kesehatan mental anak. Anak berisiko mengalami gangguan kecemasan, kesulitan mengatur emosi, hingga masalah psikologis lainnya.
Meski begitu, ia menegaskan bahwa kondisi tersebut bukan berarti semua anak dari keluarga bermasalah akan mengalami kerusakan otak permanen. Menurutnya, otak anak sangat plastis dan masih dapat pulih jika mendapat lingkungan yang aman dan suportif.
“Otak anak sangat plastis dan bisa pulih dengan lingkungan yang aman, stabil, serta dukungan yang tepat,” tulisnya lagi.
Karena itu, dr. Adam menekankan pentingnya menciptakan lingkungan keluarga yang aman, nyaman, dan suportif demi mendukung perkembangan mental serta emosional anak di masa depan.
(Kurniasih Miftakhul Jannah)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.