JAKARTA – Kabar meninggalnya seorang dokter internship di RSUD K.H. Daud Arif, Kuala Tungkal, Jambi menjadi sorotan publik. dr. Myta Aprilia dilaporkan wafat setelah sempat menjalani perawatan intensif di RSUP Dr Mohammad Hoesin Palembang.
Peristiwa ini menjadi viral karena sebelum meninggal, dr. Myta diketahui dalam kondisi sakit namun tetap menjalankan tugas. Ia disebut sudah mengalami keluhan kesehatan sejak Maret 2026, bahkan sempat dalam kondisi kritis, tetapi masih dijadwalkan menjalani tugas jaga malam meski mengalami sesak napas dan demam tinggi.
Dalam keterangan resminya, Ikatan Alumni Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya menyampaikan hasil penelusuran internal terkait kondisi kerja yang dijalani dr. Myta selama masa internship. Dari hasil tersebut, ditemukan indikasi adanya ketidaksesuaian dalam sistem kerja.
Salah satu poin yang disoroti adalah jam kerja yang dinilai tidak sesuai aturan serta kurangnya pengawasan dari pembimbing. Bahkan, disebutkan adanya beban kerja tinggi tanpa waktu libur hingga tiga bulan, baik di bangsal maupun instalasi gawat darurat (IGD).
Selain itu, kondisi kesehatan dr. Myta diduga tidak mendapat perhatian yang memadai. Ia tetap dijadwalkan bekerja meski telah mengeluhkan sakit sejak Maret 2026, termasuk menjalani tugas jaga malam.
Dalam kondisi fisik yang menurun, seperti sesak napas dan demam tinggi, dr. Myta tetap bertugas. Bahkan, disebutkan kadar saturasi oksigennya sempat berada di angka 80 persen sebelum akhirnya mendapat penanganan medis.
IKA FK Unsri juga menyoroti dugaan kendala administratif dalam pelayanan kesehatan. Disebutkan bahwa ketersediaan obat di rumah sakit sempat tidak mencukupi, sehingga pasien harus mencari obat secara mandiri di luar fasilitas.