“Efek ini sering dianggap sebagai pelarian dari stres, tekanan emosional, atau masalah hidup. Nitrous oxide menstimulasi pelepasan dopamin sehingga pengguna merasa bahagia secara instan, meskipun hanya berlangsung dalam waktu singkat,” jelasnya.
Karena efeknya cepat dan tidak memerlukan proses panjang seperti terapi atau pengelolaan emosi, whip pink kerap disalahgunakan sebagai jalan pintas untuk mengatasi tekanan psikologis. Namun, sensasi tersebut bersifat semu dan tidak menyentuh akar masalah yang sebenarnya.
Di balik tawa dan rasa senang sesaat, terdapat konsekuensi psikologis yang kerap diabaikan. Kasandra menegaskan bahwa tubuh manusia tidak dirancang untuk menerima lonjakan dopamin buatan secara terus-menerus tanpa dampak lanjutan. Ketika efek Nitrous Oxide mereda, otak justru mengalami “kekosongan” karena penurunan respons dopamin alami.
“Para peneliti menegaskan bahwa sensasi dopamin tersebut bersifat buatan dan sementara. Saat efeknya menghilang, otak bisa mengalami penurunan sensitivitas terhadap dopamin alami. Akibatnya, pengguna berisiko merasa hampa, murung, mudah gelisah, bahkan mengalami penurunan mood yang lebih tajam dibanding sebelum penggunaan,” papar Kasandra.
Kondisi ini mendorong sebagian pengguna untuk kembali menghirup gas tersebut demi mengulang sensasi euforia, sehingga tercipta pola penggunaan berulang yang berbahaya.
Jika penggunaan whip pink dilakukan berulang dalam jangka panjang, dampaknya tidak lagi terbatas pada naik-turunnya suasana hati. Menurut Kasandra, penyalahgunaan Nitrous Oxide dapat memicu ketergantungan psikologis, di mana seseorang merasa sulit menghadapi stres tanpa bantuan dopamin instan.