TREN memperoleh obat-obatan tertentu lewat jasa titip (jastip) tak ditampik memang tengah populer di kalangan masyarakat Indonesia.
Masyarakat Indonesia rela membeli obat di luar negeri lewat jalur jastip, karena seperti disebut Kepala Biro Komunikasi dan Pelayanan Publik Kementerian Kesehatan, dr. Siti Nadia Tarmizi, M.Epid, harga obat-obatan tertentu di dalam negeri memang dibanderol jauh lebih mahal dibandingkan harga di luar negeri.
"Obat generik kita memang murah, tapi begitu obat yang bermerek nah itu ada yang dua kali lipat ada tiga kali lipat dari harga kita di sini,” kata dr. Nadia, kala ditemui di Gedung Kementerian Kesehatan, Jakarta, baru-baru ini.
"Bahkan studi kecil yang dilakukan, itu yang jastipnya cuma 5 persen sampai 15 persen itu masih lebih murah obatnya yang pakai jastip," sambungnya.
Dari sekian banyak jenis obat, beberapa jenis obat tertentu diketahui paling populer dijadikan obat jastipan. Contohnya obat untuk penyakit kanker, obat penyakit jantung, vitamin, obat penyakit diabetes, hingga obat-obat bermerek.
Meminimalisasi praktik jastip obat makin marak, dr. Nadia mengatakan para pihak terkait, bisa melaporkan apa saja jenis obat yang memang begitu dibutuhkan oleh masyarakat.
"Terutama itu obat kalau enggak ada, obat kanker karena terbatas sekali di sini. Harus ada distributor yang mendaftarkankan, contoh Yayasan Kanker itu yang bisa mendaftarkan obat ini jadi obat kanker,” jelasnya.