Oleh karena banyak spesies mengalami proses tidur yang terpotong-potong seiring bertambah usia, maka dihipotesiskan bahwa mekanisme yang sama juga berlaku di seluruh mamalia. Penelitian sebelumnya menunjukkan rendahnya hipokretin menyebabkan narkolepsi pada manusia, anjing, dan tikus.
Tim peneliti de Lecea memilih tikus muda (usia 3 hingga 5 bulan) dan tua (usia 18 hingga 22 bulan). Mereka menggunakan cahaya yang dibawa oleh serat untuk merangsang neuron tertentu dan merekam hasilnya menggunakan teknik pencitraan. Tim menemukan tikus yang lebih tua telah kehilangan sekitar 38 persen hipokretin dibandingkan dengan tikus yang lebih muda.
Mereka juga menemukan bahwa hipokretin yang tersisa pada tikus tua lebih aktif dan mudah dipicu sehingga membuat hewan tersebut lebih rentan untuk bangun. Hal ini mungkin dikarenakan kerusakan "saluran kalium" yang terjadi dari waktu ke waktu. "Neuron cenderung lebih aktif dan menyala lebih banyak. Jika neuron menyala lebih banyak, Anda lebih sering bangun," kata de Lecea.
Laura Jacobson dan Daniel Hoyer dari Institut Ilmu Saraf dan Kesehatan Mental Florey Australia dalam komentar di artikel terkait mengatakan bahwa mengidentifikasi jalur spesifik yang bertanggung jawab atas penurunan kualitas tidur dapat menghasilkan obat yang lebih baik.
Obat-obatan yang menargetkan saluran tertentu masih memerlukan uji klinis. Namun, de Lecea mengatakan obat retigabin, yang saat ini digunakan untuk mengobati epilepsi dan menargetkan jalur serupa, bisa menjanjikan.
(Martin Bagya Kertiyasa)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.