PEMERINTAH Provinsi (Pemprov) Aceh melalui Dinas Kebudayaan dan Pariwisata (Disbudpar) Aceh segera mendigitalisasi manuskrip atau naskah kuno di Museum Aceh untuk memudahkan wisatawan melihatnya.
"Kita akan membuat digitalisasi naskah-naskah kuno yang ada di Museum Aceh, sehingga memudahkan masyarakat mengakses tentang manuskrip tersebut," kata Kepala Disbudpar Aceh Jamaluddin, dalam bincang virtual dalam rangka ulang tahun ke-106 tahun Museum Aceh.
Jamaluddin mengatakan, program digitalisasi terhadap kajian manuskrip Aceh tersebut masuk dalam program prioritas Disbudpar Aceh, serta membuat database koleksi museum yang dilahirkan orang Belanda, Stammeshous.
Baca juga: 5 Tempat Wisata di Banda Aceh Paling Tersohor, Yuk Intip!
"Jika ada database masyarakat bisa melihat secara digital apa saja yang ada di Museum Aceh, karena itu pengelolaan harus segera kita digitalisasikan," terang Jamaluddin.
Menurut dia, selama ini akses untuk melihat manuskrip Aceh harus diberi pendampingan oleh petugas, karena ditakutkan ada pengunjung yang memegang langsung dan mengantisipasi terjadi kerusakan.
Karena itu, lanjutnya, dalam rangka menjaga dan merawatnya, maka ke depan segera digitalisasikan, sehingga para wisatawan tidak lagi membuka naskah-naskah tersebut, melainkan dapat dilihat secara virtual.
"Untuk tahap pertama akan dibuatkan digital yang dapat dilihat dari Museum Aceh dulu. Kemudian secara bertahap baru kita buat bisa diakses secara online oleh siapapun dan dari manapun berada," tuturnya.