Nuri Auger perempuan paruh baya asal Padang, sudah hampir tiga dekade bermukim di Amerika dan kemudian menjadi penduduk kota Baltimore. Tapi ia tidak pernah membayangkan kebaya yang dijahitnya menarik minat Dewan Kesenian dan Departemen Perdagangan negara bagian Maryland.
“Seperti anugerah, orang Amerika kok mau kasih uang kebaya, anugerah sekali, anak-anak saya dan juga suami sangat bangga. Tidak banyak yang bisa saya berikan untuk kampung halaman saya, negeri Indonesia, kecuali memperkenalkan Indonesia melalui kebaya,” ungkap Nuri.
Nuri Auger mendapat hibah program Folklife Apprenticeship, program hibah pendidikan yang mendanai aktivitas pelatihan seorang pakar. “Untuk memastikan suatu tradisi budaya diteruskan dari satu generasi ke generasi berikutnya,” kata Chad Buterbaugh.
Nuri mengajarkan keahliannya menjahit kebaya kepada Stacy Stube, seorang perancang muda Amerika keturunan Indonesia, yang berupaya mempertahankan bagian dari jati dirinya dengan memahami dan mengembangkan negara tempat kelahirannya lewat bidang yang diminatinya.
“Saya tidak mau melupakan kebudayaan saya, saya memasang pesan di facebook (untuk belajar membuat kebaya) lalu saya bertemu Ibu Nuri. Keinginan Stacy menjadi penggugah Nuri yang lama mencampakkan keahliannya sebagai pembuat kebaya yang sebelumnya beruntung berkesempatan belajar dari designer legendaris Indonesia,” tukas Stacy.
“Saya ikut sekolah Futura, di Sarinah, guru-guru saya Gea Sukasah, Prayudi, Itang Yunaz dan banyak lagi, 10 designer terbaik. Saya bangga sekali ada wanita yang setengah Indonesia dan ingin tahu tentang kebaya, di situ saya berpikir saya punya ilmu, saya akan bagi ke Stacy,” kata Nuri.