Kopi-Kopi
Sejak Juli tahun ini, Tjahjadi juga dapat ditemukan dua kali seminggu di Kopi Kopi, sebuah kedai kopi dan bar anggur di Greenwich Village yang dibuka oleh Elizabeth Lapadula pada 2013.
Bagaimana dengan review Kopi-Kopi?
Dijelaskan bahwa ruangnya kedai ini lebih megah daripada di Indo Java. Pintu masuknya dibingkai seperti pintu masuk kuil. Beberapa aksesori tambahkan seperti bantal batik tersusun rapi di sofa satin. Untuk ruang makannya berada terselip di belakang. Hal itu diungkapkan Tjahjadi karena dulunya pemilik yang disebut ramen speakeasy, sering berada tersembunyi di balik rak buku geser.
BACA JUGA:
Lapadula, koki dan kepala barista Kopi-Kopi, dibesarkan di Bogor,Jawa Barat, Lapadula semasa sekolah belajar kimia dan mikrobiologi. Nah, karena background pendidikan itu, saat dia tidak berada di dapur, dia mempraktekkan hukum lingkungan dan kekayaan intelektual di kedainya sendiri.
Berharap bisa membawa sepenuhnya rasa masakan Indonesia, namun ternyata Lapadula harus tetap peka terhadap selera lingkungan sekitar (masyarakat New York, Red). Karena itu, akhirnya dia membatasi penggunaan pasta udang supaya makanan tetap "ringan,". "Jika kita membuatnya sangat Indonesia, pasar tidak menginginkannya. Rasa Indonesia itu terlalu pedas dan terlalu kaya akan rempah-rempah sehingga rasanya terlalu kuat," kata Lapadula.
Di Kopi-Kopi, Anda bisa memesan Rijsttafel, bahasa Belanda untuk "meja nasi". Di Indonesia, istilah itu berarti prasmanan. Makanan yang bisa dipilih antara lain kentang goreng yang empuk, tahu goreng, telur rebus yang disiram sambal, dan pilihan ayam bakar Bali, ayam bakar manis, atau rendang daging sapi rendang.
(Santi Andriani)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.