JAKARTA - Keinginan untuk langsung beristirahat atau tertidur lelap usai berhubungan seksual bersama pasangan memang hal yang wajar. Namun, membiasakan diri untuk tidak segera buang air kecil setelahnya justru bisa memicu masalah kesehatan yang mengganggu, salah satunya postcoital cystitis atau infeksi saluran kemih (ISK) pascabersenggama.
Hal tersebut disampaikan oleh dokter sekaligus influencer kesehatan, dr. Cecep Hermawan. Dalam unggahan di akun Instagram pribadinya, ia mengingatkan masyarakat untuk tidak menyepelekan buang air kecil usai beraktivitas intim.
“Cuma mau ngingetin gengs, kalo abis 'ena-ena' tuh usahain langsung pipis. Soalnya resikonya. Postcoital Cystitis alias infeksi saluran kencing, bakteri E. coli bisa kedorong masuk pas berhubungan,” ujar dr. Cecep, dikutip Minggu (25/10/2026).
Kenapa Wanita Lebih Rentan? Keluhan berupa rasa ingin buang air kecil secara terus-menerus namun urine yang keluar hanya sedikit (anyang-anyangan) hingga sensasi perih saat kencing beberapa hari setelah berhubungan intim merupakan gejala khas dari kondisi ini.
Dokter Cecep menjelaskan bahwa anatomi tubuh wanita menjadi faktor utama mengapa kelompok ini jauh lebih rentan terkena postcoital cystitis dibandingkan pria.
“Uretra (saluran pipis) cewek itu pendek, sekitar 3-4 cm doang, dan posisinya deket banget sama Miss V dan saluran BAB. Nah, pas berhubungan, gesekan bisa mendorong bakteri (biasanya E. coli) dari area sekitar situ, kedorong masuk ke uretra. Jaraknya yang deket inilah yang bikin cewek jauh lebih gampang kena dibanding cowok,” jelasnya.
Untuk menghindari risiko infeksi saluran kemih ini, dr. Cecep membagikan sejumlah tips praktis yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Pertama adalah minum air putih sebelum mulai berhubungan. Cobalah mengonsumsi 1–2 gelas air putih sebelum berhubungan seksual agar tubuh terdorong untuk buang air kecil setelahnya dan tidak langsung tertidur.
“Minum dulu sebelum mulai, coba minum 1-2 gelas air putih sebelum berhubungan. Biar badan kamu emang beneran kebelet pipis abis itu, bukan malah gak ngerasa apa-apa terus keburu ketiduran,” tambah dr. Cecep.
Kedua, usahakan untuk kencing dalam kurun waktu 15–30 menit setelah berhubungan. “Logikanya, pipis itu kayak ngeguyur bakteri yang sempet nyasar tadi biar keluar lagi. Keluar dikit aja udah lebih baik daripada nggak sama sekali,” lanjutnya.
Ketiga adalah mencukupi kebutuhan cairan harian. Menjaga asupan air putih harian minimal di atas 1,5 liter terbukti efektif menurunkan risiko ISK berulang secara umum.
“Cukupin minum air putih harian, ini yang justru paling mebukti kuat nurunin risiko ISK berulang secara umum, bukan cuma abis berhubungan doang. Kalau asupan air harian kamu di bawah 1,5 liter, coba dinaikin,” tutur dr. Cecep.
Meskipun anyang-anyangan ringan biasanya dapat membaik dalam waktu satu hingga dua hari dengan memperbanyak minum air putih, dr. Cecep mengimbau masyarakat untuk segera berkonsultasi dengan tenaga medis apabila muncul gejala yang lebih berat.
Seperti demam, nyeri pada pinggang atau punggung bawah yang mengindikasikan infeksi telah naik ke organ ginjal, urine bercampur darah, atau gejala yang tidak kunjung membaik setelah 2–3 hari. Selain itu, penanganan medis profesional juga diperlukan bagi mereka yang kerap mengalami infeksi ini secara berulang dalam setahun.
“Kapan harus ke dokter? Anyang-anyangan ringan yang lewat dalam sehari-dua hari, biasanya masih bisa diatasin sendiri dulu. Tapi segera periksa ke dokter kalo: demam, nyeri di pinggang/punggung bawah (bisa tanda infeksinya udah naik ke ginjal), kencing berdarah, atau gejalanya udah lebih dari 2-3 hari gak membaik. Kalo ini udah berapa kali kambuh dalam setahun, itu juga saatnya konsultasi,” pungkasnya.
(Agustina Wulandari )