Bayi Demam Tinggi Jangan Dikompres Pakai Air Es, Ini Penjelasan Dokter

Djanti Virantika, Jurnalis
Kamis 15 Oktober 2026 14:05 WIB
Anak dikompres. (Foto: Freepik)
Share :

DEMAM pada bayi kerap membuat orangtua khawatir. Apalagi, jika suhu tubuh si kecil terus mengalami peningkatan tinggi.

Salah satu cara yang sering dilakukan untuk membantu menurunkan demam adalah mengompres tubuh bayi. Namun, benarkah kompres menggunakan air dingin atau air es bisa membuat suhu tubuh bayi lebih cepat turun?

dr. Atika mengatakan kompres dengan air suam-suam kuku lebih disarankan dibandingkan menggunakan air es. Ketika bayi mengalami demam, tubuh sedang mengalami peningkatan suhu sebagai respons terhadap kondisi tertentu, misalnya infeksi.

Memberikan rangsangan dingin secara berlebihan dapat membuat tubuh bereaksi dengan menggigil. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak terburu-buru menggunakan air es untuk mengompres bayi yang mengalami demam tinggi.

Kompres menggunakan air suam-suam kuku dapat menjadi pilihan untuk membantu memberikan kenyamanan ketika bayi demam. Hindari menggunakan air yang terlalu dingin, air es, ataupun air panas.

“Mitos, ya (saat bayi demam tinggi, kompres dengan air dingin atau air es agar suhunya cepat turun dan sembuh),” ujar dr. Atika.

“Ketika bayi sedang demam, kemudian diberikan kompres dingin, justru bayi bisa menggigil, bukan malah membantu menurunkan demam. Jadi, jika ingin mengompres bayi, gunakan air hangat atau suam-suam kuku,” lanjutnya.

2. Kompres Bukan Satu-satunya Cara Tangani Demam

Orangtua juga perlu memahami bahwa kompres bukan satu-satunya langkah untuk menangani demam. Tujuan utama perawatan di rumah adalah menjaga bayi tetap nyaman, memenuhi kebutuhan cairan, serta memantau kondisi tubuhnya.

Jika bayi masih menyusu, pemberian ASI sebaiknya tetap dilanjutkan. ASI membantu memenuhi kebutuhan cairan bayi sekaligus mendukung pemenuhan nutrisinya selama sakit.

Selain itu, orang tua perlu mengukur suhu tubuh menggunakan termometer agar mengetahui suhu secara lebih akurat. Jangan hanya mengandalkan sentuhan tangan pada dahi untuk menentukan apakah bayi mengalami demam tinggi.

“Namun, kompres bukan satu-satunya cara untuk menangani demam. Sebaiknya, tingkatkan pemberian ASI, ukur suhu tubuh bayi menggunakan thermometer,” tutur dr. Atika.

 

3. Pemberian Obat Demam

dr. Atika mengingatkan bahwa penanganan demam pada bayi tidak cukup hanya dengan kompres. Orangtua perlu memperhatikan kondisi umum anak, termasuk apakah bayi masih mau menyusu, terlihat aktif seperti biasanya, dan memberikan respons ketika diajak berinteraksi.

Obat penurun demam dapat dipertimbangkan jika diperlukan, tetapi pemberiannya harus disesuaikan dengan usia dan berat badan bayi serta petunjuk tenaga kesehatan. Jangan memberikan obat secara sembarangan, terutama kepada bayi berusia di bawah tiga bulan.

Perlu diketahui, demam merupakan gejala yang dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Karena itu, penanganannya perlu mempertimbangkan usia bayi, suhu tubuh, gejala penyerta, dan kemungkinan penyebabnya.

“Berikan obat penurun panas jika diperlukan sesuai anjuran tenaga kesehatan,” jelas dr. Atika.

4. Kapan Bayi Demam Harus Dibawa ke Dokter?

Orangtua perlu segera mencari pertolongan medis jika bayi menunjukkan tanda bahaya. Di antaranya kesulitan bernapas, kejang, sulit dibangunkan, tidak mau menyusu, atau menunjukkan tanda dehidrasi.

Bayi berusia di bawah tiga bulan dengan suhu tubuh 38 derajat Celsius atau lebih harus segera mendapatkan pemeriksaan medis, meskipun tampak baik-baik saja. Pada bayi yang lebih besar, demam tinggi, kondisi yang semakin memburuk, atau demam yang disertai gejala mengkhawatirkan juga perlu dievaluasi oleh dokter.

(Djanti Virantika)

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya