DEMAM pada bayi kerap membuat orangtua khawatir. Apalagi, jika suhu tubuh si kecil terus mengalami peningkatan tinggi.
Salah satu cara yang sering dilakukan untuk membantu menurunkan demam adalah mengompres tubuh bayi. Namun, benarkah kompres menggunakan air dingin atau air es bisa membuat suhu tubuh bayi lebih cepat turun?
dr. Atika mengatakan kompres dengan air suam-suam kuku lebih disarankan dibandingkan menggunakan air es. Ketika bayi mengalami demam, tubuh sedang mengalami peningkatan suhu sebagai respons terhadap kondisi tertentu, misalnya infeksi.
Memberikan rangsangan dingin secara berlebihan dapat membuat tubuh bereaksi dengan menggigil. Karena itu, orangtua sebaiknya tidak terburu-buru menggunakan air es untuk mengompres bayi yang mengalami demam tinggi.
Kompres menggunakan air suam-suam kuku dapat menjadi pilihan untuk membantu memberikan kenyamanan ketika bayi demam. Hindari menggunakan air yang terlalu dingin, air es, ataupun air panas.
“Mitos, ya (saat bayi demam tinggi, kompres dengan air dingin atau air es agar suhunya cepat turun dan sembuh),” ujar dr. Atika.
“Ketika bayi sedang demam, kemudian diberikan kompres dingin, justru bayi bisa menggigil, bukan malah membantu menurunkan demam. Jadi, jika ingin mengompres bayi, gunakan air hangat atau suam-suam kuku,” lanjutnya.
Orangtua juga perlu memahami bahwa kompres bukan satu-satunya langkah untuk menangani demam. Tujuan utama perawatan di rumah adalah menjaga bayi tetap nyaman, memenuhi kebutuhan cairan, serta memantau kondisi tubuhnya.
Jika bayi masih menyusu, pemberian ASI sebaiknya tetap dilanjutkan. ASI membantu memenuhi kebutuhan cairan bayi sekaligus mendukung pemenuhan nutrisinya selama sakit.
Selain itu, orang tua perlu mengukur suhu tubuh menggunakan termometer agar mengetahui suhu secara lebih akurat. Jangan hanya mengandalkan sentuhan tangan pada dahi untuk menentukan apakah bayi mengalami demam tinggi.
“Namun, kompres bukan satu-satunya cara untuk menangani demam. Sebaiknya, tingkatkan pemberian ASI, ukur suhu tubuh bayi menggunakan thermometer,” tutur dr. Atika.