Gangguan Jiwa Bukan Sekadar Masalah Pikiran: Memahami Peran Otak dan Psikologis

Djanti Virantika, Jurnalis
Jum'at 09 Oktober 2026 13:05 WIB
Gangguan jiwa. (Foto: Freepik)
Share :

GANGGUAN jiwa sering kali dipahami secara sederhana sebagai masalah pikiran, kelemahan mental, atau ketidakmampuan seseorang mengendalikan emosi. Padahal, gangguan jiwa merupakan kondisi kesehatan yang kompleks.

Gangguan jiwa dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan emosi, berperilaku, dan menjalankan fungsi kehidupan sehari-hari. Kondisi ini tidak hanya berkaitan dengan pengalaman psikologis, tetapi juga melibatkan proses biologis di dalam tubuh, terutama yang berkaitan dengan fungsi otak.

Untuk memahami gangguan jiwa secara lebih utuh, perlu dilihat hubungan antara otak, pikiran, emosi, dan pengalaman hidup seseorang. Faktor biologis dan psikologis bukanlah dua hal yang berdiri sendiri, melainkan saling berinteraksi dalam memengaruhi kesehatan mental.

“Gangguan jiwa itu adalah gangguan yang bermaslaah pada daya nilai realita. Jadi dia tidak dapat menilai ini fantasi atau realita. Dan perlu diketahui, jiwa orang itu ada di otak. Otak itu yang mengatur, mengontrol semua organ tubuh, seperti jantung, paru, pembuluh darah dan lainnya,” ujar dr. Elly.

“Jadi jiwa itu juga yang mengatur cara berpikir kita, bagaimana kita beremosi dan berperilaku, serta juga mengatur fungsi hidup kita sehari-hari dalam interaksi sosial, mungkin dalam berkegiatan seperti mungkin seksual, kemudian makan tidur dan sebagainya. Itu semua diatur oleh otak,” lanjutnya.

“Jadi sakit jiwa itu sebetulnya adalah sakit otak. Jadi makanya jiwa dan fisik itu tidak bisa dipisahkan karena ya organnya jiwa itu ada di otak. Kita berbicara jiwa, maka kita berbicara otak,” kelas dr. Elly.

Kemampuan seseorang untuk merasa senang, sedih, takut, marah, atau tenang melibatkan aktivitas berbagai jaringan saraf dan sistem biologis di otak. Begitu pula dengan kemampuan menilai situasi, memahami informasi, mengendalikan impuls, dan membangun hubungan dengan orang lain.

Ketika fungsi otak terganggu, proses-proses tersebut dapat ikut terpengaruh. Perubahan yang terjadi dapat terlihat dalam bentuk gangguan konsentrasi, perubahan suasana hati, kesulitan mengendalikan emosi, perubahan perilaku, atau gangguan dalam menjalankan aktivitas sehari-hari.

Namun, tidak semua gangguan jiwa menyebabkan seseorang kehilangan kemampuan membedakan kenyataan dan khayalan. Pada gangguan seperti depresi dan gangguan kecemasan, seseorang umumnya tetap mampu memahami realitas, meskipun alami penderitaan emosional dan perubahan fungsi sehari-hari.

Kesulitan menilai realitas lebih berkaitan dengan kondisi tertentu yang melibatkan gejala psikotik. Meskipun, penyebabnya tetap perlu diperiksa secara menyeluruh.

Hal ini menunjukkan bahwa gangguan jiwa memiliki bentuk dan mekanisme yang beragam. Karena itu, gangguan jiwa tidak dapat dipahami hanya berdasarkan satu gejala atau perubahan perilaku tertentu.

2. Faktor Biologis: Ketika Kondisi Tubuh Memengaruhi Kesehatan Mental

dr. Elly menjelaskan bahwa salah satu aspek penting dalam memahami gangguan jiwa adalah faktor biologis. Faktor ini mencakup kerentanan genetik, fungsi otak, sistem saraf, hormon, kondisi kesehatan fisik, serta pengaruh zat tertentu terhadap tubuh.

Sebagian gangguan mental memiliki komponen genetik yang dapat meningkatkan kerentanan seseorang. Artinya, seseorang yang memiliki anggota keluarga dengan gangguan jiwa tertentu mungkin memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan orang lain.

Namun, faktor genetik bukanlah penentu mutlak. Seseorang tetap dapat memiliki risiko yang berbeda-beda bergantung pada kondisi biologis, pengalaman hidup, dan lingkungan yang dihadapinya.

Selain itu, fungsi otak melibatkan komunikasi antarsel saraf melalui berbagai mekanisme yang kompleks, termasuk neurotransmiter atau zat kimia yang membantu sel saraf berkomunikasi. Proses tersebut berperan dalam pengaturan suasana hati, motivasi, perhatian, tidur, dan respons terhadap stres.

Perubahan pada sistem-sistem tersebut dapat berkaitan dengan gejala gangguan mental. Meski demikian, gangguan jiwa tidak dapat disederhanakan sebagai akibat dari ketidakseimbangan satu zat kimia di otak. Setiap gangguan memiliki mekanisme yang kompleks dan melibatkan berbagai faktor sekaligus.

“Ada sesuatu hal di otak yang mungkin menngakibatkan pikiran, emosi, perilaku, dan fungsi hidup kita jadi berubah,” tutur dr. Elly.

“Bisa karena faktor organik seperti sakit yang kronis, mungkin infeksi di otak seperti virus, bakteri, jamur, mungkin karena pendarahan stroke, ataukah karena ada tumor karena ada metbolisme tubuh lainnya mengganggu keseimbangan. Pasti langsung akibatkan kita mungkin ivcara kacau, emosinya kacau. Perilakunya kacau,” lanjutnya.

 

Halaman:
Share :
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Topik Artikel :
Berita Terkait
Terpopuler
Telusuri berita Women lainnya