Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Mengenal Skizofrenia, Salah Satu Masalah Kesehatan Jiwa yang Banyak Ditemukan di Indonesia

Djanti Virantika , Jurnalis-Sabtu, 03 Oktober 2026 |13:05 WIB
Mengenal Skizofrenia, Salah Satu Masalah Kesehatan Jiwa yang Banyak Ditemukan di Indonesia
Apa itu Skizofrenia. (Foto: Freepik)
A
A
A

MASALAH kesehatan jiwa tidak hanya berkaitan dengan gangguan kecemasan dan depresi. Ada pula gangguan jiwa berat seperti psikosis, termasuk skizofrenia, yang dapat memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, berperilaku, dan menjalani kehidupan sehari-hari.

Psikolog sekaligus Ketua Bidang Kemitraan dan Komunikasi Ikatan Psikolog Klinis Indonesia (IPK Indonesia), Annelia Sari Sani, S.Psi, dalam acara Morning Zone yang tayang di Youtube Okezone menyebut psikosis atau skizofrenia sebagai salah satu kelompok diagnosis yang menjadi masalah kesehatan jiwa di Indonesia.

Pemicu Krisis Kesehatan Mental yang Paling Banyak Ditemukan, Masalah Keluarga Jadi yang Utama

“Depresi kecemasan itu adalah hal berbeda. Tapi memang secara statistik, Indonesia itu masalah kesehatan jiwa itu yang menduduki 4 besar itu adalah gangguan jiwa besar atau psikosis atau diagnosisnya ada skizofrenia. Kalau kita ajak ngomong sudah enggak nyambung, enggak tahu ini siapa. Antara realitas dengan apa yang dia persepsikan itu berbeda. Nah itu gangguan jiwa berat,” ujar Anne.

Menurutnya, selain psikosis, gangguan kecemasan, gangguan mood seperti depresi, serta penyalahgunaan NAPZA juga termasuk masalah kesehatan jiwa yang perlu mendapat perhatian. Lantas, apa itu skizofrenia?

1. Apa Itu Skizofrenia?

Dilansir dari Mayo Clinic, skizofrenia merupakan gangguan kesehatan mental serius yang memengaruhi cara seseorang berpikir, merasakan, dan berperilaku. Kondisi ini dapat membuat seseorang mengalami kombinasi halusinasi, delusi, serta gangguan dalam berpikir dan berperilaku.

Dalam kondisi tertentu, penderita dapat mengalami kesulitan membedakan pengalaman yang muncul akibat gangguan tersebut dengan kenyataan. Kementerian Kesehatan juga memasukkan psikosis/skizofrenia sebagai gangguan jiwa berat. Gejala khasnya antara lain waham atau halusinasi yang menetap, perilaku tertentu yang tidak biasa, serta gejala negatif yang dapat berdampak signifikan terhadap kualitas hidup.

Skizofrenia bukan sekadar kondisi ketika seseorang "berbicara sendiri" atau "berperilaku aneh". Diagnosisnya membutuhkan pemeriksaan oleh tenaga kesehatan profesional karena sejumlah kondisi lain juga dapat menimbulkan gejala yang menyerupai psikosis.

2. Skizofrenia di Indonesia

Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dilansir dari laman BPKP Kemenkes, prevalensi rumah tangga yang memiliki anggota rumah tangga dengan gejala psikosis/skizofrenia tercatat 4,0 persen, sedangkan yang memiliki anggota rumah tangga dengan gejala sekaligus diagnosis tercatat 3,0 persen dalam indikator yang digunakan Kementerian Kesehatan.

Dalam Pedoman Nasional Pelayanan Klinis Tata Laksana Skizofrenia yang diterbitkan Kementerian Kesehatan pada 2025, estimasi berdasarkan data Global Burden of Disease menyebut sekitar 2,6 juta orang di Indonesia mengalami gangguan jiwa berat skizofrenia. Pedoman tersebut juga mencatat bahwa prevalensi skizofrenia secara global umumnya berada pada kisaran 0,5-1 persen populasi.

Angka tersebut menunjukkan bahwa skizofrenia merupakan salah satu masalah kesehatan yang perlu mendapat perhatian. Dalam hal ini termasuk deteksi, pengobatan, dukungan keluarga, dan pengurangan stigma.

 

Halaman:
      
Follow WhatsApp Channel Okezone untuk update berita terbaru setiap hari
Berita Terkait
Telusuri berita women lainnya
Advertisement
Advertisement
Advertisement