Gejala skizofrenia dapat berbeda antara satu orang dengan lainnya. Beberapa gejala utama perlu diketahui.
Pertama, delusi atau waham. Delusi merupakan keyakinan kuat terhadap sesuatu yang tidak sesuai dengan kenyataan. Misalnya, seseorang meyakini dirinya sedang dikejar atau akan disakiti oleh orang lain tanpa adanya dasar yang sesuai dengan kenyataan. Seseorang juga dapat memiliki keyakinan bahwa dirinya mempunyai kemampuan atau kedudukan luar biasa.
Kedua, halusinasi. Halusinasi terjadi ketika seseorang mengalami persepsi terhadap sesuatu yang tidak diamati oleh orang lain. Halusinasi dapat melibatkan berbagai indra, tetapi mendengar suara yang tidak didengar orang lain merupakan salah satu bentuk yang paling umum pada skizofrenia.
Ketiga, gangguan berpikir dan berbicara. Skizofrenia juga dapat memengaruhi kemampuan seseorang dalam menyusun pikiran dan menyampaikannya. Pembicaraan dapat menjadi sulit diikuti, jawaban terkadang tidak berkaitan dengan pertanyaan, atau seseorang kesulitan menyampaikan pikirannya secara runtut.
Keempat, perubahan perilaku. Perubahan perilaku dapat muncul dalam berbagai bentuk. Seseorang bisa menjadi sangat gelisah, melakukan tindakan yang tidak biasa, atau justru menjadi sangat pasif dan minim respons. Perubahan tersebut dapat membuat aktivitas sehari-hari menjadi lebih sulit dilakukan.
Kelima, gejala negative. Gejala negative dapat berupa berkurangnya kemampuan atau minat yang sebelumnya dimiliki. Contohnya adalah berkurangnya ekspresi emosi, berbicara dengan nada datar, kehilangan minat terhadap aktivitas sehari-hari, menarik diri dari lingkungan sosial, serta kesulitan merencanakan kegiatan.
Hingga kini, penyebab skizofrenia tidak dapat dijelaskan oleh satu faktor saja. Dilansir dari Mayo Clinic, para peneliti melihat adanya peran kombinasi faktor genetik, perubahan kimiawi otak, dan faktor lingkungan.
Riwayat keluarga, pengalaman hidup tertentu, kondisi selama kehamilan atau kelahiran, serta penggunaan zat psikoaktif pada masa remaja atau dewasa muda dapat menjadi faktor yang meningkatkan risiko. Hal serupa juga perlu dilihat dalam konteks masalah kesehatan jiwa secara umum.
Anne menjelaskan bahwa penyebab seseorang sampai mengalami gangguan kesehatan jiwa sangat kompleks dan tidak dapat disederhanakan menjadi satu penyebab. Karena itu, diperlukan pemeriksaan profesional untuk mengetahui kondisi dan kebutuhan penanganan seseorang.
"Kalau ditanya akar penyebab masalahnya, kombinasinya bisa muncul berapa ratus ribu. Banyak sekali memang," ujar Anne.
(Djanti Virantika)
Women Okezone menyajikan berita terbaru dan terpercaya seputar dunia perempuan. Dapatkan informasi terkini tentang gaya hidup, kesehatan, karier, dan inspirasi wanita di Indonesia.